Gerhana Bulan dan Ketepatan Hisab: Saat Ilmu Membuktikan

Selasa, 3 Maret 2026 | 21.53

Gerhana bulan adalah peristiwa astronomis yang bisa diprediksi ratusan tahun sebelumnya dengan akurasi tinggi.

Penulis : Rudi Yahya, Pemerhati Kebijakan Publik asal Purbalingga

Puskapik.com Gerhana bulan tidak pernah datang sembarangan. Ia hanya terjadi saat bulan purnama — ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Dalam kalender Hijriyah, fase ini selalu berada di pertengahan bulan, sekitar tanggal 14 atau 15.

Ketika gerhana bulan total terjadi, sementara sebagian umat menghitungnya sebagai tanggal 14 Ramadhan, muncul satu pertanyaan mendasar: siapa yang paling presisi dalam menetapkan awal bulan?

Di Indonesia, Muhammadiyah sejak lama menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Metode ini berbasis perhitungan astronomi yang presisi, bukan sekadar kemungkinan visual. Dalam sistem ini, awal bulan ditetapkan melalui kalkulasi posisi bulan yang dapat dihitung hingga detik.

Baca Juga: Menko Pangan Apresiasi Kinerja Jateng dalam MBG dan Pangan

Hasilnya? Ketika gerhana datang tepat di pertengahan Ramadhan menurut hitungan Muhammadiyah, itu bukan kebetulan. Itu konsistensi.

Sebaliknya, pendekatan rukyat yang digunakan oleh Nahdlatul Ulama dan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia tetap memiliki ruang subjektivitas pengamatan dan faktor cuaca.

Tidak jarang terjadi perbedaan satu hari karena hilal tidak terlihat, meskipun secara astronomi sudah memenuhi kriteria.

Ilmu falak modern hari ini bukan lagi asumsi. Ia adalah sains presisi. Gerhana bulan adalah peristiwa astronomis yang bisa diprediksi ratusan tahun sebelumnya dengan akurasi tinggi.

Jika fase purnama jatuh tepat pada hitungan Ramadhan ke-14 versi Muhammadiyah, maka itu menjadi bukti bahwa pendekatan hisab bukan sekadar pilihan, melainkan keniscayaan ilmiah.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait