Bicara Tanpa Data dan Fakta, Ketenangan Palsu Itu Bom Waktu

Selasa, 27 Januari 2026 | 16.19
Iqbal
Iqbal

alam tidak pernah tunduk pada logika target, dan bencana tidak pernah mau bernegosiasi dengan optimisme yang miskin fakta.

Penulis : Iqbaal Harits Maulana, Sekretaris Pusat Kajian Sosial Kemasyarakatan Origami Nusantara

puskapik.com - Coba tanyakan kepada diri sendiri apakah benar kita sering kali lebih takut pada bayang-bayang kegelisahan daripada pada kegelisahan itu sendiri.

Dalam ketakutan itu, kita memilih untuk menjahit mulut kenyataan dan menggantinya dengan nyanyian palsu yang menenangkan.

Namun, pernahkah kita merenung, apakah kita sedang membangun benteng perlindungan, atau justru sedang menggali liang lahat bagi kepercayaan?

Baca Juga: PT Fusoh Tube Parts Lirik IKM Tegal, Jajaki Kerjasama Suplai Komponen Industri

Sebuah peringatan sering kali datang bukan lewat guruh yang menggelegar, melainkan lewat sunyi yang menyimpan rahasia, menunggu waktu untuk bicara dengan cara yang paling saksama.

Sering kali kita gemar memoles keretakan dengan cat warna-warni, berharap estetika mampu menipu struktur yang mulai rapuh.

Di bawah langit yang mendung, narasi "semua baik-baik saja" ditiupkan seperti lagu pengantar tidur, sebuah upaya semu untuk menjinakkan badai dengan kata-kata manis yang miskin angka dan tuna fakta.

Kita sering berdalih bahwa kebohongan kecil adalah payung pelindung agar khalayak tak basah kuyup oleh kecemasan.

Namun, di balik topeng penenang itu, kita sebenarnya sedang menyimpan bara dalam sekam, memelihara monster di balik tirai yang kelak akan tumbuh melampaui kemampuan kita untuk menyembunyikannya. Kebiasaan memanen ketenangan dari ladang fiktif ini bukan sekadar kekhilafan, melainkan penyakit kronis yang menggerogoti nalar publik, sebuah infeksi mental yang membuat kita lebih mencintai kenyamanan palsu daripada keselamatan yang nyata.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait