Sejarah Stasiun Bumiayu, Dibangun Era Kolonial Belanda Berfungsi Sebatas Halte

Stasiun Bumiayu, dibuka 1917, kini tertata baik dengan empat jalur. Dulunya halte, kini penting untuk transportasi dan pengiriman hasil bumi di Brebes.
BREBES, puskapik.com - Stasiun Bumiayu, Kabupaten Brebes, menjadi sorotan menyusul insiden anjloknya Kereta Api (KA) Bangunkarta relasi Jombang - Pasarsenen, Senin siang (6/4/2025).
Lalu bagaimana sejarah dan perkembangan stasiun dengan kode BMA ini, sebelum menjadi titik penting?
Stasiun Bumiayu berada di Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes.
Baca Juga: Belanja Pegawai 30 Persen, DPRD Pemalang Larang Korbankan PPPK
Letaknya sangat strategis karena dekat dengan jalur nasional Tegal-Purwokerto. Didekat stasiun ini, juga terdapat jembatan KA yang sangat dikenal, peninggalan era kolonial Belanda.
Namanya, Jembatan Sakalinel atau Jembatan Saka Limabelas.
Stasiun Bumiayu saat ini berstatus stasiun kelas II. Dari berbagai sumber yang digali puskapik.com, stasiun ini resmi dibuka pada 1 Januari 1917 oleh perusahaan kereta api negara kolonial Belanda, Staatsspoorwegen (SS).
Baca Juga: Efisiensi Anggaran, Pemkab Brebes Tegaskan Tak Ada Pengurangan PPPK
Staisun Bumiayu, awalnya merupakan halte sederhana dalam proyek memperpendek jalur Cirebon-Purwokerto-Kroya. Pembangunan stasiun itu juga bagian dari peresmian jalur kereta api lintas Patuguran–Margasari di tahun 1917.
Letak Stasiun Bumiayu ini, terbilang unik. Itu karena terletak diketinggian +236,45 m. Stasiun ini juga terkenal dengan pemandangan alam indah dan dekat dengan Jembatan Sakalibel, jembatan kereta api terpanjang di Daop 5 Purwokerto (280 meter).


