Mengulik Sejarah Lanskap Gedung SCS hingga Zwembad, Warisan Kolonial di Jantung Tegal

Jumat, 26 September 2025 | 21.55
Mengulik Sejarah Lanskap Gedung SCS hingga Zwembad, Warisan Kolonial di Jantung Tegal

TEGAL, puskapik.com - Di balik megahnya Gedung Semarang Cheriboon Strootram Maatshappij (SCS) dan Stasiun Tegal, tersimpan kisah tentang tata ruang kota dan lanskap kolonial yang pernah menjadikan kaw...

TEGAL, puskapik.com - Di balik megahnya Gedung Semarang Cheriboon Strootram Maatshappij (SCS) dan Stasiun Tegal, tersimpan kisah tentang tata ruang kota dan lanskap kolonial yang pernah menjadikan kawasan ini pusat aktivitas ekonomi dan sosial di masa lalu. Pegiat sejarah Yono Daryono dan Ahli Perencanaan Kota, Abdullah Sungkar, menceritakan kepada rombongan turis Belanda bahwa kawasan ini dulunya dirancang sebagai satu kesatuan. “Dari Gedung SCS ke Selatan hingga ke Zwembad yang kini dikenal sebagai Samudera (Terrace Pool) dulu menjadi area terintegrasi untuk perkeretaapian. Ada rumah-rumah pegawai, lapangan tenis, sekolah bahkan taman,” kata Yono. Gedung SCS dibangun oleh arsitek Belanda terkenal Henri Maclaine Pont, yang juga merancang Stasiun Poncol Semarang dan gedung ITB Bandung. Gedung ini memanjang dari Barat ke Timur sehingga cahaya matahari menembus sempurna dan ventilasinya membuat ruangan tetap sejuk tanpa AC. “Bentuk bangunan simetris, memiliki dua fasad yang menghadap ke Utara dan Selatan, karena awalnya dikelilingi lahan terbuka. Sistem ventilasinya menyesuaikan iklim tropis Hindia Belanda,” jelas Abdullah Sungkar. Sungkar juga mengenang lanskap Kota Tegal tempo dulu. Menurutnya, di depan SMP Negeri 1 Tegal dulu terdapat taman dengan jungkat-jungkit dan perosotan. Lapangan PJKA Kota Tegal di era 1980-an terbagi dua, sebelah Timur untuk sepak bola dan sebelah Barat untuk voli. Namun, pada tahun 1985 lahan di sisi Barat dipinjam Pemerintah Kota Tegal untuk merelokasi pedagang Alun-alun. “Pasar Alun-alun Tegal atau yang dikenal Pasar Malam, dulu berada di depan Masjid Agung. Tetapi di tahun 1985 direlokasi,” kata Sungkar. Menurut Sungkar, Alun-alun Tegal memiliki dua fungsi, yakni sisi Barat untuk perluasan Masjid Agung sebagai sarana kegiatan keagamaan. Di sisi Barat, ditandai dengan lapangan berumput dan sisi Timur untuk pasar malam dan hiburan rakyat, yang ditandai dengan lapangan pasir. “Di gerbang yang kini menjadi Balai Kota, dulu ada paseban kembar dan cemara laut kembar yang menjadi tempat istirahat para pedagang,” ucap Sungkar. Dikatakan Sungkar, kawasan ini menjadi bukti betapa pentingnya Tegal sebagai simpul transportasi dan pusat aktivitas di masa kolonial. Dengan perawatan dan pengelolaan yang tepat, jejak lanskap sejarah ini dapat menjadi daya tarik utama bagi wisata sejarah di Tegal. **

Artikel Terkait