Fatherless Jadi Alasan Menteri Wihaji Galakkan Gerakan Ayah Ambil Rapor Anak
Sabtu, 20 Desember 2025 | 14.34

PEMALANG, puskapik.com – Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah di latarbelakangi oleh masih tingginya isu fatherless di Indonesia yang membutuhkan perhatian serius. Fenomena fatherless tidak ha...
PEMALANG, puskapik.com – Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah di latarbelakangi oleh masih tingginya isu fatherless di Indonesia yang membutuhkan perhatian serius.
Fenomena fatherless tidak hanya terjadi ketika ayah tidak hadir secara fisik, tetapi juga mencakup kurangnya keterlibatan ayah secara emosional, meskipun masih tinggal bersama keluarga.
Kondisi ini dinilai berdampak signifikan terhadap tumbuh kembang anak, baik dari sisi psikologis maupun akademik.
Berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) tahun 2025, tercatat satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless, sebesar 25,8 persen.
Faktor ekonomi, seperti ayah yang tidak bekerja, serta disfungsi relasi keluarga seperti perceraian, menjadi dua faktor teratas yang menyumbang tingginya angka tersebut.
BKKBN menjelaskan, kondisi fatherless berpotensi memicu berbagai persoalan, mulai dari masalah akademik, perilaku agresif, hingga keterlibatan anak dalam perilaku berisiko.
Situasi ini menegaskan pentingnya mendorong keterlibatan ayah secara lebih nyata dalam kehidupan anak, baik di lingkungan rumah maupun pendidikan.
Sekolah dipandang sebagai ruang strategis bagi ayah untuk menunjukkan kehadiran dan dukungan terhadap perkembangan anak.
Selain itu, keterlibatan ayah di ranah pendidikan juga dapat memperkuat komunikasi antara orang tua. Dan juga pihak sekolah dalam memantau proses belajar anak.
Ayah yang aktif terlibat dalam pendidikan anak dan remaja terbukti mampu meningkatkan motivasi serta hasil belajar.
Atas dasar itu, Kemendukbangga/BKKBN mengimplementasikan strategi nasional penguatan ketahanan keluarga. Kemudian, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelibatan ayah di ranah pendidikan.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi simbol kehadiran ayah. Tetapi juga menjembatani penguatan peran ayah dalam pengasuhan serta komunikasi antara orang tua dan anak.



