Misteri Dua Pusaka Keris Pemalang yang Pernah Dicari-cari Belanda

Selasa, 19 Agustus 2025 | 21.26
Misteri Dua Pusaka Keris Pemalang yang Pernah Dicari-cari Belanda

PUSKAPIK.COM, Pemalang - Dua pusaka keris Kabupaten Pemalang, Kyai Tapak dan Kyai Mongklang, telah menjadi kisah yang melintasi berbagai zaman, dari era kerajaan, kolonial Belanda, hingga era kemerdek...

PUSKAPIK.COM, Pemalang - Dua pusaka keris Kabupaten Pemalang, Kyai Tapak dan Kyai Mongklang, telah menjadi kisah yang melintasi berbagai zaman, dari era kerajaan, kolonial Belanda, hingga era kemerdekaan Indonesia. Namun, hingga kini dua keris yang amat bersejarah bagi masyarakat, bahkan menjadi bagian dari lambang atau logo Pemerintah Kabupaten Pemalang itu tak jelas keberadaannya dan hanya menyisakan tanya. Dalam kisahnya, Keris Kyai Tapak diwarisi dari Pangeran Benowo, putera dari Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir yang merupakan raja dari Kesultanan Pajang. Keris Kyai Tapak menjadi ageman sang pangeran. Keris Kyai Tapak itu didapat Pangeran Benowo dari penguasa Banten atas perintah ayahnya. Namun, setelah berhasil mendapat keris Kyai Tapak, Pangeran Benowo urung pulang lantaran masih terjadi huru-hara di kerajaannya. Kondisi demikian diketahui Pangeran Benowo setelah menggoreskan keris Kyai Tapak ke pohon kosambi di Desa Penggarit yang sampai sekarang ini terkenal dengan keberadaan makam Pangeran Benowo. Sementara keris Kyai Mongklang diwarisi dari Pangeran Purbaya yang dititipkan kepada Nyai Widuri sebagai tanda terima kasih lantaran telah menolong dan mengobatinya yang terluka usai berperang melawan Slingsingan. Singkatnya, keris Kyai Tapak diserahkan Nyai Widuri kepada Bupati Pemalang untuk dirawat dan menjadi pusaka Kabupaten Pemalang. Sejak itu, Keris Kyai Tapak dan Kyai Mongklang menjadi pusaka Kabupaten Pemalang. Kisah tentang pusaka keris Kyai Tapak dan Kyai Mongklang terus berlanjut hingga era Kyai Makmur, Bupati Pemalang ke-3 (pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia) yang tewas ditembak tentara Belanda saat agresi militer Belanda I. Setelah Kyai Makmur ditembak tentara Belanda tanggal 9 September 1947 siang, kemudian sekitar pukul 20.00 WIB malam utusan tentara Belanda datang ke rumah Kiai Makmur di taman untuk mencari keris Kyai Mongklang dan Kyai Tapak. Namun setelah menggeledah seisi rumah Kyai Makmur, mereka tidak berhasil menemukan keris Kyai Tapak dan Kyai Mongklang. Entah apa motif tentara Belanda mencari-cari pusaka milik Kabupaten Pemalang itu. Sejarawan Kabupaten Pemalang, Koestoro (80), mengaku, pernah menyaksikan keris Kyai Mongklang saat dirinya mengontrak di bangunan lama rumah Bupati Pemalang sekitar tahun 1970. Pusaka itu ditaruh di kamar khusus dengan pusaka lainnya. "Waktu masih di kasepuhan (kompleks kabupaten), belum ambruk, dulu kan ada rumah bupati. Saya pernah kontrak rumah kasepuhan, saya tidur disitu, ada pusaka kyai mongklang, payung, semua atribut-atribut bupati ada disitu." ujarnya. Tetapi setelah tak menghuni bekas rumah Bupati Pemalang, Koestoro tak mengetahui secara pasti dimana keberadaan keris Kyai Mongklang. "Bentuknya panjang mongklang-mongklang, luk 13." ujarnya mengingat. Sampai saat ini Pemerintah Kabupaten Pemalang masih rutin menggelar tradisi jamasan pusaka setiap bulan Suro atau 1 Muharram sebagai upaya pelestarian budaya. **

Artikel Terkait