Bongkar Fakta: Kenapa Lowongan Kerja di Brebes Lebih Banyak untuk Perempuan?
Jumat, 19 September 2025 | 01.23

BREBES, puskapik.com – Seorang pemuda dari Tonjong gagal melamar kerja di pabrik sepatu Bulakamba karena lowongan hanya untuk perempuan. Videonya viral dan bikin banyak orang bertanya-tanya: kenapa si...
BREBES, puskapik.com – Seorang pemuda dari Tonjong gagal melamar kerja di pabrik sepatu Bulakamba karena lowongan hanya untuk perempuan. Videonya viral dan bikin banyak orang bertanya-tanya: kenapa sih, di Brebes, laki-laki susah dapat kerja di pabrik?
Ternyata, ini bukan kasus baru. Di Brebes, banyak pabrik garmen dan sepatu memang lebih memilih pekerja perempuan, terutama untuk bagian produksi.
Data dari Dinas Tenaga Kerja Brebes menunjukkan, dari 28 pabrik besar, hanya tiga yang lebih banyak mempekerjakan laki-laki. Sisanya didominasi perempuan.
Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan. Sejumlah perusahaan menyebut ada tantangan tertentu yang perlu dibenahi agar tenaga kerja laki-laki bisa lebih optimal terserap.
Tantangan Kedisiplinan dan Perilaku Kerja
Perusahaan kerap mencatat tingkat ketidakhadiran dan keterlambatan yang lebih tinggi dari pekerja laki-laki. Pergantian tenaga kerja juga lebih sering terjadi dibandingkan pekerja perempuan.
Selain itu, ditemukan pula kasus penggunaan obat golongan G yang dikenal sebagai “obat Aceh” di kalangan pekerja laki-laki. Zat ini termasuk obat keras yang penggunaannya di luar pengawasan medis dapat membahayakan keselamatan kerja.
Pemerintah Kabupaten Brebes menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja adalah prioritas. Penggunaan zat terlarang tidak akan ditoleransi, dan pendekatan pembinaan akan terus diperkuat.
Isu perlindungan pekerja juga menjadi perhatian. Meski belum banyak laporan resmi, potensi pelecehan seksual tetap menjadi hal yang perlu diantisipasi.
Pemkab mendorong seluruh perusahaan memiliki standar operasional perlindungan dan kanal aduan yang aman.
Industri: Produksi Butuh Ketekunan, Pintu Tetap Terbuka
HRD PT Osaga Mas Utama, Ery Iwang Wahyudi, menjelaskan bahwa pekerjaan di bagian produksi seperti menjahit dan assembling membutuhkan ketelitian dan konsistensi tinggi.
"Menjahit butuh keuletan dan ketelitian. Maka yang paling cocok diisi oleh perempuan. Di bagian gudang, kami butuh tenaga yang kuat dan disiplin, dan itu biasanya diisi laki-laki," ujar Ery saat dihubungi via pesan WhatsApp, Kamis (18/9/2025).
Namun, ia menegaskan bahwa perusahaan tetap membuka peluang bagi semua pelamar, selama mereka siap kerja dan bersedia mengikuti ritme produksi.
Pemerintah Daerah: Pelatihan Jadi Kunci
Kepala Dinperinaker Brebes, Warsito Eko Putro, menyampaikan bahwa tantangan utama bukan pada jenis kelamin, melainkan pada kesiapan keterampilan dan perilaku kerja.
"Banyak pelamar laki-laki belum punya skill dasar seperti menjahit atau merakit sepatu. Sementara syarat masuk pabrik minimal SMA atau SMK," kata Eko.
Sebagai bentuk solusi, Pemkab telah meluncurkan program Brebes Siap Kerja yang menyasar laki-laki usia 18–35 tahun. Program ini mencakup pelatihan teknis, pembinaan soft skill, sertifikasi BNSP, dan fasilitasi magang industri.
"Kami ingin anak-anak Brebes punya bekal yang cukup. Tidak hanya niat, tapi juga kemampuan dan sikap kerja yang siap," ujarnya.
Apindo: Laki-Laki Bisa Diterima, Asal Siap
Ketua Apindo Brebes, Edy Suryono, menyambut baik langkah pemerintah dan menegaskan bahwa industri tidak menutup pintu bagi laki-laki. Menurutnya, Apindo secara aktif menerima dan menempatkan tenaga kerja laki-laki di berbagai sektor.
"Ada beberapa perusahaan yang tenaga kerjanya 50–60 persen laki-laki, karena mencari perempuan kadang lebih sulit," jelas Edy.
Ia juga menyatakan bahwa BLK dan LPK di Brebes siap menerima calon pekerja laki-laki yang bersedia mengikuti pelatihan.
"Ini bukti, BLK dan LPK juga menerima dan menempatkan tenaga kerja laki-laki. Ke depan, LPK berencana mengembangkan jenis pelatihan seperti mekanik produksi, las, dan elektrik untuk menyerap tenaga kerja laki-laki," ujarnya sambil menunjukkan foto peserta pelatihan kerja yang mengenakan seragam kemeja putih dan celana hitam.
Edy menekankan pentingnya pembentukan karakter kerja yang tangguh dan disiplin sejak awal. "Pada Sabtu, 13 September lalu, PT BIG juga menyelenggarakan kegiatan PHBI yang dibarengi dengan santunan anak yatim," pungkasnya.
Pemkab Dorong Investasi dan Sinergi Pendidikan
Kepala DPMPTSP Brebes, Tety Yuliana, menyampaikan bahwa Pemkab aktif mendorong masuknya investasi baru yang berpihak pada tenaga kerja lokal.
Sepanjang semester pertama 2025, lima pabrik baru mulai konstruksi di kawasan Bulakamba dan Losari, dengan total nilai investasi mencapai Rp 1,2 triliun.
"Setiap investor wajib menyerap tenaga kerja lokal, baik perempuan maupun laki-laki, dan menyediakan pelatihan awal. Itu komitmen kami," tegas Tety.
Tety juga menambahkan bahwa Pemkab telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah agar jurusan SMK di Brebes lebih relevan dengan kebutuhan industri lokal.
"Kami dorong penyesuaian jurusan seperti teknologi tekstil dan produksi alas kaki. Lulusan SMK harus langsung siap kerja," tutupnya. **



