Penghafal Al Quran di Jateng Berhak Terima Bisyarah

Sabtu, 13 Desember 2025 | 23.39
Penghafal Al Quran di Jateng Berhak Terima Bisyarah

SEMARANG, puskapik.com – Bisyarah bagi para penghafal Al Quran akan diberikan kepada seluruh santri yang menjalani hafalan di wilayah Jawa Tengah, tanpa membedakan asal daerah atau kepemilikan KTP. "S...

SEMARANG, puskapik.com – Bisyarah bagi para penghafal Al Quran akan diberikan kepada seluruh santri yang menjalani hafalan di wilayah Jawa Tengah, tanpa membedakan asal daerah atau kepemilikan KTP.

"Selama melakukan hafalan di Jawa Tengah, tidak memandang KTP mana, tetap dapat hadiah," kata Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maemoen saat memberikan sambutan Haflah Khotmil Qur''an Madrasah Qur’anil Majid (MQM) Ponpes Assalafiyyah Al Mas''udiyyah Putri 02 dan Ponpes Blater Madinatul Qur''an ke 6,di Pondok Pesantren Blater Madinatul Qur’an Bandungan, Kabupaten Semarang, Sabtu 13 Desember 2025.

Siapa pun yang menghafal Al Quran di Jawa Tengah berhak menerima bisyarah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Program ini diharapkan membawa keberkahan bagi jalannya pemerintahan.

Bisyarah bagi penghafal Al Quran telah dilaksanakan melalui APBD Provinsi Jawa Tengah, berupa apresiasi sebesar Rp1 juta bagi santri yang berhasil menghafal 30 juz.

Pemprov Jateng juga memiliki program beasiswa untuk santri untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, baik kampus dalam negeri maupun luar negeri. Dalam sambutannya, Gus Yasin menyampaikan, bagaimana Al Quran membawa umat kepada kemuliaan. Dia mencontohkan, sahabat Nabi Muhammad yang masuk dalam katagori inklusi. Ada Abdullah Bin Mas''ud, yang tubuhnya kecil, dan kondisi fisiknya sering diolok-olok orang. Siapa sangka, justru menjadi ulama yang masyhur, dan sahabat nabi yang disegani. Sahabat lainnya, Abu Hurairah, yang intelektualnya tidak menonjol. Bahkan, jika di tes, IQ nya di bawah rata-rata. Namun demikian, kata Gus Yasin, justru menjadi perawi hadits terkemuka. "Pendidikan inklusi sudah diajarkan Nabi Muhammad sejak dahulu. Dan ini diimplementasikan oleh pondok pesantren, dengan menjadi pelopor pendidikan inklusi. Siapa pun diterima untuk belajar Al Quran, tidak hanya kalangan yang hebat," ujarnya. Pada kesempatan tersebut, diberikan bisyarah kepada tujuh penghafal 30 juz Al Quran. Tasyakuran juga menghadirkan 86 penghafal 30 juz binnadzri, dan 145 penghafal juz 30 bil ghoib. Tasyakuran ditutup dengan doa khotmil Quran oleh Dr KH Mu''tashim Billah, pengasuh pondok pesantren Sunan Pandanaran Sleman, Yogyakarta. **

Artikel Terkait