Emak-emak Desa Adisana Brebes Turun ke Jalan Soroti Banjir Berulang dan Kerusakan Hutan

Jumat, 30 Januari 2026 | 13.10
Emak-emak Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, turun ke jalan dan membentangkan spanduk saat aksi moral menyoroti banjir berulang dan dugaan kerusakan hutan di kawasan lereng Gunung Slamet, Jumat 30 Januari 2026.
Emak-emak Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, turun ke jalan dan membentangkan spanduk saat aksi moral menyoroti banjir berulang dan dugaan kerusakan hutan di kawasan lereng Gunung Slamet, Jumat 30 Januari 2026.

Emak-emak Desa Adisana, Brebes, turun ke jalan lewat aksi “Emak Bergerak” untuk soroti banjir berulang dan dugaan kerusakan hutan lereng Gunung Slamet.

BREBES, puskapik.com — Sejumlah emak-emak di Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, turun ke jalan dalam aksi moral pada Jumat pagi, 30 Januari 2026. Aksi bertajuk "Emak Bergerak" ini dilakukan untuk menyuarakan keprihatinan atas banjir yang kerap terjadi serta dugaan kerusakan hutan di kawasan lereng Gunung Slamet.

Aksi dimulai sekitar pukul 09.00 dari Kantor Desa Adisana. Para emak-emak yang mayoritas ibu rumah tangga itu berjalan kaki menyusuri jalan desa menuju sejumlah titik yang selama ini kerap terdampak banjir.

Mereka membentangkan sejumlah spanduk yang dipasang di titik-titik rawan banjir. Salah satu spanduk bertuliskan “Hutan Lindung Digunduli, Banjir Bandang Menghantui, Kasus Gunung Slamet Terbengkalai”.

Baca Juga: Waspadai Banjir, Saluran Perkotaan Dipenuhi Enceng Gondok Dibersihkan

Tak hanya terfokus di Desa Adisana, spanduk-spanduk aksi juga dipasang di sejumlah wilayah lain yang masuk Kecamatan Bumiayu, Sirampog, dan Paguyangan. Sedikitnya terdapat sepuluh spanduk yang dipasang sebagai upaya menyampaikan aspirasi warga secara lebih luas.

Koordinator lapangan aksi, Namara, mengatakan, aksi moral tersebut merupakan inisiatif warga yang selama ini merasakan langsung dampak banjir. Menurutnya, banjir yang terjadi berulang kali menimbulkan kekhawatiran, terutama saat curah hujan tinggi.

“Warga berharap ada penanganan yang lebih serius. Tidak hanya saat banjir terjadi, tetapi juga langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang,” kata Namara.

Baca Juga: Banjir Bumiayu, Bupati Brebes Tambah Alat Berat untuk Percepat Penanganan Banjir

Para emak-emak juga menilai kerusakan hutan di kawasan lereng Gunung Slamet menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko banjir. Berkurangnya tutupan vegetasi dinilai menyebabkan air hujan tidak tertahan dan langsung mengalir ke permukiman warga.

Selain merusak rumah dan fasilitas umum, banjir juga berdampak pada aktivitas harian masyarakat. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan potensi banjir bandang, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait