Banjir Bandang Pernah Porak Porandakan Pemalang Tahun 1886, Tinggi Air 4 Meter

Banjir bandang pernah melanda Pemalang tahun 1886 dengan ketinggian air hingga 4 meter, memporak-porandakan wilayah dan memaksa warga mengungsi.
PEMALANG, puskapik.com – Peringatan Hari Jadi ke-451 Kabupaten Pemalang diselimuti duka dengan musibah banjir bandang di wilayah puncak yang memporak-porandakan pemukiman warga hingga menelan korban jiwa.
Alarm bencana alam itu sudah menyala sejak Jumat 16 Januari 2026 lalu. Dimana hujan deras yang mengguyur Pemalang memicu genangan di perkotaan dan banjir di wilayah pesisir seperti Kecamatan Ampelgading, Comal, dan Ulujami.
Banjir yang terjadi di wilayah-wilayah tersebut dipicu meluapnya Sungai Comal yang merupakan sungai terbesar di Kabupaten Pemalang, setelah hujan deras mengguyur semalaman. Ketinggian air bahkan setinggi pinggang orang dewasa.
Baca Juga: Tumpukan Kayu di Pantai Larangan Tegal, Bukti Kerusakan Hutan di Lereng Gunung Slamet
Puncaknya pada Sabtu 24 Januari 2026 dini hari, tepat pada Hari Jadi Pemalang, banjir bandang menerjang Kecamatan Pulosari dan Moga yang merupakan daerah puncak di Kabupaten Pemalang. Desa Penakir menjadi wilayah terparah.
Banjir bandang yang membawa material bebatuan raksasa dan kayu-kayu gelondongan dari hutan Gunung Slamet itu menyebabkan 10 rumah hilang tersapu arus banji, 4 mobil hanyut, dan 1 orang tewas terseret arus.
Musibah banjir itu membawa ingatan kita pada banjir dahsyat yang pernah menerjang Pemalang pada abad ke-19 di semasa pemerintahan kolonial Belanda. Banjir memporak-porandakan kota dan sangat memukul kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Patung Naga Cerek di Wisata Guci Tegal Hilang Tersapu Banjir, Pertanda Apa?
Sejarah Peristiwa Banjir Dahsyat di Pemalang
Sejak era kolonial, wilayah pesisir utara Pulau Jawa memang telah lama dikenal sebagai kawasan yang rentan dilanda banjir. Di Kabupaten Pemalang, catatan mengenai peristiwa banjir pernah terjadi pada abad ke-19, ketika sebagian wilayahnya diterjang luapan air.



