Ikan Diusulkan Jadi Menu MBG, Kota Tegal Siap Jadi Pilot Project

Jumat, 12 Desember 2025 | 02.36
Ikan Diusulkan Jadi Menu MBG, Kota Tegal Siap Jadi Pilot Project

TEGAL, puskapik.com - Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Tegal, mengusulkan agar komoditas ikan masuk dalam menu program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Ketua DPC HNSI Kota Tegal, Eko Susanto meni...

TEGAL, puskapik.com - Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Tegal, mengusulkan agar komoditas ikan masuk dalam menu program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Ketua DPC HNSI Kota Tegal, Eko Susanto menilai potensi produksi perikanan di daerah ini sangat besar, sehingga mampu menjadi daerah percontohan MBG berbahan ikan secara nasional. Eko menyebutkan, HNSI Kota Tegal saat ini memiliki sekitar 5.000 anggota, mulai dari pemilik kapal, ABK, pengurus kapal hingga tenaga perbekalan dan bongkaran. Kapal-kapal yang beroperasi juga memiliki jenis dan kapasitas berbeda sehingga menghasilkan komoditas beragam. "Untuk kapal JTB, sekali tangkap bisa mencapai 50 sampai 60 ton. Produksinya banyak diolah menjadi surimi yang diekspor ke Korea dan Jepang atau dibuat kerupuk filet ke Palembang. Cumi bekunya juga diekspor ke Cina," ungkap Eko, Kamis, 11 Desember 2025. Jenis ikan yang ditangkap JTB di antaranya kuniran, abangan, kurisi serta cumi. Sementara kapal pursin menghasilkan ikan layang dan banyar yang banyak diolah menjadi ikan asin di Blok J dan dipasarkan ke Lampung hingga Sumatra. Adapun kapal gillnet lebih kecil, dengan hasil sekitar 25-30 ton per trip. Komoditasnya meliputi ikan tongkol, kakap dan tengiri yang masuk ke Tempat Pelelangan Ikan dan menjadi bahan baku ikan bakar maupun produk olahan lainnya. Eko menjelaskan, sebagian hasil tangkapan seperti ikan rucah atau pirik juga dapat dimanfaatkan menjadi tepung pakan bebek. Sementara untuk kebutuhan konsumsi masyarakat, ikan filet serta produk olahan seperti nugget, sosis dan bakso ikan cocok dijadikan menu MBG. "Kota Tegal ini sentra produksi ikan, tetapi tidak semua masyarakat suka makan ikan. Justru yang terkenal itu kepala manyung. Untuk MBG, kita bisa masuk lewat produk filet dan olahan yang lebih mudah diterima," jelas Eko. Pria yang menjabat sebagai anggota legislatif ini menambahkan, saat gelombang tinggi seperti sekarang, produksi kapal berkurang sehingga harga ikan cenderung bagus. "Kalau hasil melimpah harga turun, kalau produksi minim harga naik. Tapi untuk pasokan MBG, Tegal sangat siap karena ekosistemnya lengkap," kata Eko. Dengan kapasitas produksi yang besar, industri pengolahan yang kuat dan rantai distribusi yang sudah berjalan, Eko berharap komoditas ikan menjadi bagian resmi dari menu MBG. "Kami siap membantu penuh. Kalau ikan masuk MBG, Tegal bisa jadi pilot project se-Indonesia," tegas Eko. **

Artikel Terkait