Diskusi Evolusi Kota Tegal : Olivier Johannes Raap Kagumi Arsitektur dan Tata Kota
Kamis, 18 September 2025 | 15.31

TEGAL, puskapik.com - Diskusi bulanan ''Datang, Duduk, Sama Merasa'' kembali digelar di Spasi Creative Space Tegal, Rabu 17 September 2025 malam. Kali ini, tema yang diangkat adalah ''Evolusi Kota Teg...
TEGAL, puskapik.com - Diskusi bulanan ''Datang, Duduk, Sama Merasa'' kembali digelar di Spasi Creative Space Tegal, Rabu 17 September 2025 malam. Kali ini, tema yang diangkat adalah ''Evolusi Kota Tegal dalam Tinjauan Sejarah'' dengan menghadirkan penulis buku Djawa Tempo Doeloe, Olivier Johannes Raap, sebagai pembicara serta Abdullah Sungkar, ahli perencanaan kota, sebagai moderator.
Meski datang ke Tegal untuk berwisata, Olivier mengaku merasa terhormat bisa berbagi pandangan tentang sejarah dan tata kota.
"Saya sebenarnya tidak menyiapkan materi. Tapi khusus untuk Yono Daryono, teman baru saya di Tegal, saya mencoba menyusun bahan secara singkat," ujar Olivier.
Menurut Olivier, Tegal menyimpan banyak jejak sejarah, terutama dari sisi arsitektur dan tata ruang kota. Dia menyinggung beberapa bangunan bersejarah, salah satunya Gedung SCS, yang sempat dikunjunginya.
"Saya senang melihat bangunan bersejarah. Di Tegal, saya bisa menemukan banyak itu,” katanya.
Tidak hanya itu, pengalaman menjelajahi kota juga meninggalkan kesan mendalam.
"Kemarin saya keliling naik mobil, tapi pagi tadi saya mencoba naik sepeda. Ternyata jauh lebih menarik. Dengan sepeda, saya bisa melihat langsung dan mengenali bagian-bagian kota," tutur Olivier yang berencana kembali lagi ke Tegal meski akhir bulan harus pulang ke Belanda.
Sementara itu, moderator sekaligus Ahli Perencanaan Kota, Abdullah Sungkar, menilai apa yang disampaikan Olivier menjadi pengingat penting bagi masyarakat maupun pemerintah.
"Kita bisa bayangkan, orang asing dari Belanda datang jauh-jauh ke Tegal karena tertarik pada bangunan kolonial. Mereka bisa melihat nilai arsitektur sekaligus filosofi sosial di baliknya. Sayangnya, kita sendiri sebagai pemilik warisan ini kurang memberi perhatian," jelas Sungkar.
Sungkar menyoroti bahwa pemahaman cagar budaya sering kali hanya sebatas bangunan, padahal seharusnya juga mencakup lanskap dan lingkungan sekitar.
"Contohnya Alun-alun Tegal atau taman di depan stasiun. Seharusnya itu bisa dipertahankan sebagai satu kesatuan sejarah kota," jelasnya.
Sungkar berharap, hadirnya diskusi bersama penulis sejarah dari Belanda ini bisa menggugah kesadaran publik dan pemerintah daerah untuk lebih serius melestarikan cagar budaya di Tegal.
"Bukan hanya soal bangunan, tetapi juga lanskap, jaringan jalan hingga filosofi sosial yang melekat dalam arsitektur kolonial. Semoga komunitas arsitektur dan sejarah di Tegal terus bergerak untuk mengingatkan kita semua," pungkas Sungkar. **



