Open post

Kapolres Pemalang Salurkan Bantuan dari Alumni Akpol 1993 di Kampung Nelayan Krasak

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Pandemi Covid-19 turut berdampak pada penghasilan nelayan di Dukuh Krasak, Kelurahan Sugihwaras, Pemalang. Mereka pun harus mencari pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Salah seorang warga Dukuh Krasak, Rasmani (43) mengatakan, simpanan warga yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan semakin menipis, karena daya beli masyarakat menurun selama pandemi Covid-19.

“Kalau melaut tidak mendapatkan banyak ikan, kami terpaksa mencari pekerjaan sampingan, seperti menjadi buruh bangunan untuk bertahan di tengah pandemi,” kata Rasmani, Kamis, 19 Agustus 2021.

Kapolres Pemalang AKBP Ronny Tri Prasetyo Nugroho mengatakan, situasi sulit yang dihadapi warga terdampak di Kabupaten Pemalang menjadi perhatian pemerintah. Karena itu, pihaknya bersama instansi terkait mendistribusikan bantuan sosial kepada mereka.

“Saat ini, kami mendistribusikan bantuan sosial dari Alumni Akpol 1993 Batalyon Pesat Gatra kepada warga terdampak Covid-19 di Kabupaten Pemalang,” kata Kapolres.

Dalam Sehari, Kapolres mengungkapkan, Polres Pemalang mendistribusikan bantuan sosial untuk warga terdampak di empat lokasi, yakni tiga tempat di slum area dan satu tempat di pondok pesantren.

“Totalnya ada 210 paket sembako yang kita distribusikan hari ini untuk warga terdampak Covid-19 di Kabupaten Pemalang, di kampung nelayan Dukuh Krasak, kami mendistribusikan 85 paket sembako,” kata Kapolres.

“Semoga bantuan sosial yang didistribusikan secara terus-menerus oleh pemerintah dan Alumni Akpol 1993 Batalyon Pesat Gatra, dapat membantu warga Kabupaten Pemalang tetap produktif selama pandemi,” imbuh Kapolres.

Kontributor: Suryo Sukarno
Editor: Faisal M

Open post

Pendangkalan Muara Tanjungsari Tak Kunjung Ditangani, HNSI Pemalang Ancam Gelar Demo

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Nelayan pelabuhan Tanjung Sari, Kelurahan Sugihwaras, Pemalang, berteriak mengeluhkan pendangkalan muara yang tak kunjung mendapatkan perhatian dari pemerintah. Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pemalang mengancam gelar aksi unjuk rasa agar masalah ini segera ditangani.

Nelayan di Pelabuhan Tanjungsari, Kelurahan Sugihwaras, Pemalang, mengeluhkan pendangkalan muara yang menghambat akses kapal mereka. Pendangkalan muara terjadi sejak Januari 2021 lalu, dan merupakan masalah tahunan.

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pemalang, Abdul Wahid, mengatakan, pendangkalan ini perlu segera ditangani untuk memperlancar aktivitas nelayan.

“Nelayan kan kebutuhannya dari laut, ini pas musimnya ramai, kondisinya kaya begini. Kemaren kan sepi,” kata Abdul Wahid, Sabtu, 3 April 2021.

Ia menuturkan, akses kapal para nelayan terkendala pendangkalan tersebut, karena pada bibir muara, hanya selebar 3 meter yang bisa dilalui kapal. Belum lagi di sekitar tempat pelelangan ikan, yang mengharuskan kapal ditarik agar bisa sampai di tempat bersandar.

Bahkan bulan ini, sudah ada 4 kapal yang menjadi korban dari pendangkalan muara. Dari 4 kapal itu, 2 kapal tak terselamatkan dan rusak berat akibat dihantam ombak saat kandas, bangkai kapal masih tersisa di ujung dermaga pemecah ombak.

“Di sini sebenarnya sangat bagus kalau bisa maksimal, sehari bisa masuk 10 sampai 20 ton ikan, dengan asumsi per kilogram Rp15.000, itu hanya sekitar 30% sampai 40%. Karena hampir 60% nelayan enggak bisa masuk, akhirnya pindah ke daerah lain,” kata Abdul Wahid.

Memang sebelumnya, pemerintah sudah membantu alat berat untuk mengatasi pendangkalan muara. Namun, alat berat tak berfungsi karena terlalu kecil.

Mengenai masalah pendangkalan muara ini, tutur Abdul Wahid, pihaknya sudah sering melakukan audiensi dengan DPRD Pemalang. Namun tak pernah ada kepastian dari Pemerintah untuk menangani masalah tersebut.

“Termasuk kemarin kita ke sana dilontarkan ke DPU, karena katanya sekarang dilontarkan ke DPU TR,” kata Abdul Wahid. “Ini rencananya teman-teman mau aksi. Ya nyuwun sewu, kita sudah tidak sabar lagi,” kata Abdul Wahid.

Diberitakan sebelumnya, beberapa kapal nelayan di pelabuhan Tanjung Sari, Kelurahan Sugihwaras, Kabupaten Pemalang, mengalami kandas akibat pendangkalan muara. Kapal-kapal nelayan mengalami kesulitan menuju tempat bersandar akibat pendangkalan itu, bahkan memakan waktu sehari.

Penulis: Eriko Garda Demokrasi
Editor: Faisal M

Open post

Junaedi: Cuaca Ekstrem Nelayan Pemalang Jangan Melaut

PEMALANG (PUSKAPIK) – Nelayan di pesisir Kabupaten Pemalang diimbau tidak melaut untuk sementara waktu. Hal itu mengingat buruknya cuaca dan kondisi perairan yang tidak bersahabat.

“Sekiranya membahayakan keselamatan, tolong tidak usah memaksakan diri untuk melaut dulu. Kondisi cuaca sedang tidak bersahabat dan membahayakan,” kata Bupati Pemalang, H.Junaedi, SH kepada Puskapik, Rabu (8/1/202) petang.

Demi keselamatan diri, Junaedi meminta agar para nelayan harus dapat mengutamakan kewaspadaan. Sebab, kondisi cuaca dan laut sekitar Pemalang dan sekitarnya yang selalu memburuk dan tiba-tiba ekstrem, memicu terjadinya musibah di laut.

Larangan melaut juga disampaikan pihak kepolisian. Petugas Syahbandar Satuan Polisi Air (Satpolair) Polres Pemalang bahkan sudah memasang bendera hitam di dua tempat antara lain Muara Kali Srengseng, Tanjungsari dan Kali Elon Asemdoyong.
“Kami bersama kepolisian memasang bendera hitam di dua tempat mulai Senin (6/1) kemarin,”kata Suparno, Petugas Syahbandar.

Sementara menurut Kepala Satpolair AKP Sunardi, pemasangan bendera hitam dilakukan untuk menindaklanjuti peringatan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang cuaca di Laut Jawa.

“Peringatan dari BMKG mengenai cuaca Laut Jawa akan berlangsung satu minggu sehingga kami menghimbau agar nelayan tidak melaut karena cuaca laut buruk,”kata Sunardi.

Menurut dia tinggi gelombang Laut Jawa utara Pemalang antara 0,75-1 meter dengan arus yang kuat. Arus kuat itu akan menyulitkan nelayan saat memasang jaring.

Dari pantauan Puskapik, ratusan perahu nelayan ditambatkan di tepian Kali Srengseng Tanjungsari Pemalang dan Kali Elon Asemdoyong, Taman. Beberapa hari sebelumnya, sebanyak dua belas perahu nelayan sempat hilang setelah banjir menerjang kawasan nelayan di Desa Asemdoyong Kecamatan Taman, Pemalang. (KN)

Scroll to top