Legenda Desa Cipaku Purbalingga, Sezaman dengan Kerajaan Tarumanegara (Seri 2-habis)

Prasasti Cipaku di Purbalingga menyimpan jejak sejarah kuno, diduga terkait Tarumanegara atau Galuh Purba dan lanskap budaya Sunda lama.
PURBALINGGA, puskapik.com - Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, masih menyimpan banyak misteri warisan budaya. Dengan penemuan Batu Tulis di Desa Cipaku, dikaitkan dengan Kerajaan Tarumanegara di abad ke-3 hingga ke-5 Masehi.
Sejumlah sejarawan menduga bahwa nama pada Prasasti Cipaku di Museum Lokastithi Giri Badra Dukuh Pangebonan, Desa Cipaku, merujuk pada seorang raja atau bangsawan pada rentang abad ke-3 hingga ke-5 Masehi.
Salah satu hipotesis mengaitkannya dengan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat.
Baca Juga: Jejak Leluhur, Prasasti Batu Tulis Cipaku Purbalingga Masih Tersimpan Misteri
Dugaan ini didasarkan pada kemiripan bentuk tulisan dengan Prasasti Ciaruteun di Bogor.
Kedua prasasti sama-sama ditulis dalam bentuk seloka, menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, serta diperkirakan berasal dari periode yang relatif sama.
Perbedaannya, Prasasti Cipaku hanya memuat satu baris kalimat, sementara Prasasti Ciaruteun terdiri atas empat baris seloka metrum anustubh dan secara jelas menyebut Raja Purnawarman, penguasa Tarumanegara.
Baca Juga: Weton Rabu Wage, Hari Ini Akan Dapat Keberuntungan
Jika Cipaku berada dalam lingkup pengaruh Tarumanegara, maka wilayah Purbalingga masa itu, kemungkinan menjadi bagian dari jejaring kekuasaan barat Pulau Jawa.
Namun hipotesis lain juga mengemuka. Ada dugaan bahwa Cipaku justru berkaitan dengan Galuh Purba, dan Indra Wardhana Wikrama Deva merupakan salah satu tokoh pentingnya.
Hingga kini, kedua kemungkinan tersebut masih berada dalam ranah interpretasi ilmiah.
Sungai dan Lanskap Budaya
Bagi kerajaan-kerajaan awal Nusantara, sungai merupakan jalur utama transportasi, perdagangan, dan komunikasi.
Baca Juga: Legenda Desa Cipaku Purbalingga, Jejak Sunyi Galuh Purba di Batu Tulis (Seri 1)
Cipaku berada di kawasan sungai-sungai kecil yang bermuara ke Sungai Serayu, salah satu jalur penting sejak masa kuno.
Sejarawan Claude Guillot mencatat bahwa perbatasan budaya Sunda dan Jawa tidak pernah bersifat kaku. Ia mengikuti aliran sungai dan kepentingan ekonomi.
Jejak toponimi berawalan “Ci” di Purbalingga dan Banyumas memperkuat dugaan bahwa kawasan ini pernah berada dalam satu lanskap budaya Sunda lama, sebelum pengaruh Jawa berkembang secara bertahap.
Batu, Mitos, dan Ingatan Kolektif
Selain bernilai arkeologis, Watu Tulis Cipaku juga hidup dalam kepercayaan masyarakat setempat. Batu ini masih dikeramatkan dan kerap dikunjungi peziarah.
Di sekitarnya sering ditemukan sisa dupa dan sesaji sebagai penanda bahwa artefak kuno tersebut tetap diberi makna hingga kini.
Berbagai cerita lokal pun berkembang, termasuk keyakinan bahwa batu tersebut memiliki daya magnet kuat atau berasal dari pecahan meteor.
Klaim-klaim ini belum terverifikasi secara ilmiah, tetapi menunjukkan bagaimana peninggalan sejarah terus hidup dalam imajinasi dan praktik budaya masyarakat.
Desa dalam Sejarah
Tidak ada bukti yang memastikan Cipaku sebagai pusat kerajaan besar. Namun sejarah tidak hanya milik pusat kekuasaan. Desa-desa seperti Cipaku justru memperlihatkan bagaimana peradaban bekerja dari pinggiran.
Sejarawan Sartono Kartodirdjo menulis bahwa tanpa desa, negara hanyalah konsep; desa adalah realitas sejarah. Dalam konteks itu, Cipaku bukan sekadar latar, melainkan bagian dari proses panjang pembentukan identitas wilayah.
Membaca Ulang Sejarah Lokal
Memahami Cipaku dan Prasasti Cipaku bukanlah upaya mengklaim kejayaan masa lalu, melainkan membaca ulang sejarah lokal secara kritis dan proporsional.
Dari desa, kita belajar bahwa Nusantara dibangun bukan hanya oleh raja dan istana, tetapi juga oleh kampung-kampung yang setia menjaga denyut kehidupan dan ingatan kolektifnya. **


