Guru, Tak Sekadar Mengajar, Mendidik  Adalah Kerja Hati

Kamis, 8 Januari 2026 | 17.26
Guru, Tak Sekadar Mengajar, Mendidik  Adalah Kerja Hati

Mengajar bukanlah sekadar aktivitas rutin di ruang kelas, bukan pula hanya proses transfer ilmu dari guru kepada murid.

Penulis : Mughni Ma'mun, Praktisi Pendidikan Tinggal di Brebes

TEGAL, puskapik.com - Mengajar bukanlah sekadar aktivitas rutin di ruang kelas, bukan pula hanya proses transfer ilmu dari guru kepada murid.

Lebih dari itu, mendidik adalah kerja hati. sebuah panggilan jiwa untuk membentuk manusia seutuhnya. 

Di tangan seorang guru, pengetahuan ditanamkan, karakter dibangun, dan nilai-nilai kehidupan diperkenalkan sejak dini.

Baca Juga: Agung Widyantoro Ajak Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Disabilitas di Brebes

Seorang guru tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Ia juga menanamkan pemahaman tentang konsekuensi dari setiap perilaku, membimbing anak untuk mengenal mana yang benar dan salah, serta menumbuhkan tanggung jawab atas setiap tindakan. 

Pendidikan karakter inilah yang kelak menjadi fondasi kuat bagi anak dalam menghadapi kehidupan sosial yang semakin kompleks.

Di tengah derasnya arus globalisasi, guru juga memegang peran strategis dalam menjaga dan menanamkan budaya, nasionalisme, serta patriotisme pada generasi muda. 

Sekolah menjadi ruang penting untuk mengenalkan jati diri bangsa, bahwa menjadi pintar saja tidak cukup. tetapi juga harus memiliki rasa cinta Tanah Air, menghargai budaya sendiri, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Untuk menjalankan peran besar itu, seorang guru dituntut mengajar dengan hati. 

Baca Juga: Jalan Cinanas-Pruwatan Brebes Ambles Sepanjang 35 Meter, Kendaraan Kesulitan Lewat

Guru harus hadir sebagai teladan, sebab apa yang dilihat murid sering kali lebih membekas daripada apa yang didengar. 

Di mata murid, guru adalah figur “sempurna” yang akan dicontoh dalam sikap, tutur kata, hingga cara berpikir. Karena itu, kreativitas dalam pembelajaran menjadi keharusan, agar proses belajar tidak hanya bermakna, tetapi juga menyenangkan dan membekas.

Ironi Bayang-bayang Dunia Pendidikan Kita.

 Di balik tanggung jawab besar yang dipikul, masih banyak guru,terutama guru honorer yang kesejahteraannya jauh dari kata layak. 

Honor yang diterima bahkan kerap kalah jauh dibandingkan profesi lain dengan tingkat tanggung jawab yang tidak sebesar peran seorang pendidik.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar, “bagaimana guru dapat terus mengembangkan kreativitas, berinovasi, dan mengajar dengan sepenuh hati, jika kebutuhan dasarnya saja belum terpenuhi secara layak?”

Sudah saatnya pendidikan tidak hanya menuntut pengabdian, tetapi juga menghadirkan keadilan. 

Menghargai guru bukan semata lewat pujian dan seremonial tahunan, melainkan dengan memastikan kesejahteraan yang memadai. 

Baca Juga: Gedung Tua di Alun-alun Pemalang Menyimpan Jejak Peradilan Kolonial

Sebab, mendidik memang harus dari panggilan hati. namun panggilan hati pun membutuhkan dukungan nyata agar tetap menyala dan mampu menerangi masa depan generasi bangsa.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah tuntunan hidup yang menumbuhkan budi pekerti, bukan sekadar rutinitas administratif di ruang kelas. 

Namun, cita-cita luhur itu terasa timpang ketika para penuntun hidup guru honorer masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasarnya.

Bagaimana mungkin tuntunan diberikan dengan optimal, sementara penuntunnya sendiri belum dituntun oleh kebijakan yang adil?

Jika guru diminta mendidik dengan cinta, keteladanan, dan kreativitas, maka negara dan pemangku kepentingan pendidikan pun semestinya hadir dengan keberpihakan nyata. 

Sebab, sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara, pendidikan akan tumbuh subur bila manusianya dimanusiakan dan memuliakan guru adalah langkah awal untuk memuliakan masa depan bangsa.***

Artikel Terkait