Jadi Sudut Estetik di City Walk Pemalang, Begini Sejarah Gedung Pegadaian
Jumat, 19 Desember 2025 | 00.28

PEMALANG, puskapik.com – Gedung tua Pegadaian Pemalang kini seolah kembali hidup dan menjadi aksen estetik di kawasan pedestrian atau City Walk Jalan Jenderal Sudirman Pemalang dengan menghadirkan nua...
PEMALANG, puskapik.com – Gedung tua Pegadaian Pemalang kini seolah kembali hidup dan menjadi aksen estetik di kawasan pedestrian atau City Walk Jalan Jenderal Sudirman Pemalang dengan menghadirkan nuansa klasik.
Di balik tampilannya yang estetik, bangunan tua itu menyimpan kisah perjalanan panjang lembaga gadai negara sejak 1909. Bangunan tersebut pun telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai cagar budaya.
Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pemalang, Dhiana Putry Larasaty, membenarkan, bangunan tua milik Pegadaian Pemalang tersebut telah ditetapkan menjadi cagar budaya.
"Ya, bangunan Pegadaian Pemalang itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya di tahun 2024 dengan nomor 100.3.3.2/647/Tahun 2024." terang Dhiana Putry Larasaty kepada puskapik.com, Kamis 18 Desember 2025.
Dhiana Putry Larasaty lantas menceritakan sejarah Pegadaian Pemalang. Kehadiran Pegadaian (Pandjeshuis) tidak lepas dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda untuk mengindarkan rakyat dari jeratan hutang renternir dengan bunga fantastis.
Pegadaian di Kabupaten Pemalang sendiri dibangun secara bertahap sejak 1909 hingga 1911. Dalam laporan lelang pembangunan gedung kantor pusat pegadaian negeri di Pemalang tahun 1909 memiiliki nilai kontrak maksimal f 28.083
Nilai kontrak lelang ini lebih tinggi dibandingkan dengan gedung pegadaian cabang di Randudongkal dengan nilai kontrak maksimal sebesar f 25.134, pegadaian Ulujami f 27.999 dan pegadaian di Comal f 26.365.
Tahun 1911 terdapat pengumuman mengenai pemenuhan pegawai di pegadaian negara Pemalang seperti pemindahan wakil pengurus pegadaian negara di Jenar H.O.P Brostawkis dan L. Davids bagian administrasi dari pegadaian negara Paraan ke kantor pusat pegadaian negara Pemalang
"Saat itu dibuka juga lowongan pekerjaan bagian pelayanan pegadaian Pemalang dengan minimal pendidikan setingkat Hogere Burgerschool (sekolah menengah umum zaman Hindia Belanda setara SMP-SMA)." tutur Dhiana Putry Larasaty.
Pada masa kolonial, masyarakat Pemalang semakin terbantu dengan adanya pegadaian. Terutama saat hasil pertanian dan perkebunannya menurun drastis dan mereka tidak dapat mengandalkan pinjaman Bank Rakyat dan renterir.
"Maka mereka lebih memilih menggadaikan barang ke pegadaian." ungkap Dhiana Putry Larasaty.
Pada masa Jepang pegadaian tetap beroperasi dengan terbatas. Bahkan sempat menjadi tempat beribadat saat masa revolusi kemerdekaan atau saat tahanan interniran warga Eropa dibebaskan oleh Jepang.
"Jadi saat itu para pastor dan suster
melaksanakan ibadat secara berpindah dari rumah penduduk, kantor pos hingga kemudian di kantor pegadaian." jelasnya.
Pada 1952 pegadaian sempat mengalami masa sulit karena sektor ekonomi lain belum berjalan normal hingga minat masyarakat membeli barang lelang tidak banyak. Akibatnya negara lah yang membelinya sendiri.
"Tercatat ada sekitar 4.007 lembar barang tekstil yang tidak terjual di Pegadaian Pemalang." ungkap Dhiana Putry Larasaty.
Setelah perjalanan panjang itu, Pegadaian Pemalang kemudian berpindah ke bangunan baru berkisar tahun 1993. Bangunan lama itu pun lama tidak difungsikan. Beberapa sudut bangunannya tampak mengalami kerusakan.
Pantauan puskapik.com, Senin 15 Desember 2025, gedung tua Pegadaian Pemalang tersebut tampak dilakukan perbaikan dengan pengecatan ulang untuk menjaga keindahan pemandangan di City Walk Pemalang. **



