Langkah Pemprov Jateng Pulihkan Duka Penyintas Bencana

Sabtu, 31 Januari 2026 | 12.16
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi

Pemprov Jateng beri layanan trauma healing dan psikososial bagi anak-anak serta ibu pengungsi banjir di Pulosari untuk pulihkan semangat dan mental.

PEMALANG, puskapik.com - Upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah dalam menangani pemulihan pascabencana banjir di wilayahnya tidak semata difokuskan pada penyaluran bantuan maupun perbaikan infrastruktur sementara. Para penyintas juga memperoleh layanan pemulihan trauma (trauma healing) dan dukungan psikososial guna membantu meredakan duka serta luka batin yang mereka alami.

Hal tersebut tampak di Posko Pengungsian Kantor Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Jumat, 30 Januari 2026. Anak-anak dan para ibu yang terdampak banjir dan mengungsi secara rutin mendapatkan pendampingan psikososial serta layanan trauma healing dari para petugas.

Keceriaan anak-anak terlihat saat diajak bermain dan menonton film animasi secara bersama-sama. Keceriaan itu semakin menjadi setelah Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sacara khusus menyapa mereka. Bahkan, terjadi dialog, canda, dan tawa antara anak-anak dengan Gubernur.

Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Percepat Relokasi Pengungsi Bencana Purbalingga

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Ema Rachmawati mengatakan, di Pemalang itu ada beberapa kasus anak-anak yang terpisah dengan orang tuanya selama sekian jam. Maka ada trauma-trauma yang dihadapi.

"Kita lakukan trauma healing. Biasanya kalau anak-anak itu dengan bermain, melukis, menyanyi-nyanyi. Lalu ada konselingnya juga," katanya ditemui di lokasi saat mendampingi Ahmad Luthfi.

Konseling dan trauma healing itu diberikan oleh DP3AKB melalui pusat pembelajaran keluarga (Puspaga). Pendampingan melibatkan psikolog, lembaga layanan sosial, bahkan balai karantina sosial.

Selain terhadap anak-anak, layanan tersebut juga diberikan kepada ibu-ibu di pengungsian. Sebab, tinggal lama di pengungsian tentu saja menimbulkan kebosanan, karena tidak banyak melakukan kegiatan. Bahkan ingin pulang pun masih ada ketakutan atau bahkan rumahnya sudah tidak ada.

"Kalau ibu-ibu biasanya main-main sebentar terus ngobrol supaya bisa menguraikan persoalan yang dialami. Harus diidentifikasi lagi untuk kebutuhan dia ke depan atau jangka panjang. Kadang juga diarahkan ikut membantu memasak di dapur," jelas Ema.

Ema menambahkan, di pengungsian Kantor Kecamatan Pulosari juga terdapat salah seorang perempuan yang kehilangan keluarga. Sebab, suaminya terseret arus dan ditemukan meninggal dunia.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait