Unik! Di Pangebatan Brebes, Bahasa Sunda dan Jawa Hidup Berdampingan Tanpa Salah Paham

Minggu, 1 Februari 2026 | 16.35
Kawasan Pasar Buaran, Desa Pangebatan, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes.
Kawasan Pasar Buaran, Desa Pangebatan, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes.

Desa Pangebatan, Brebes, menjadi ruang hidup dua bahasa. Warga sehari-hari menggunakan Sunda dan Jawa berdampingan tanpa sekat, memperkaya budaya lokal.

BREBES, puskapik.com – Pangebatan bukan desa biasa. Di sini, Bahasa Sunda dan Jawa hidup berdampingan dalam percakapan sehari-hari, tanpa salah paham.

Bagi warga desa ini, bercakap dalam dua bahasa sudah hal biasa. Tapi bagi orang luar yang datang, pemandangan itu terasa unik dan menarik.

Desa di Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, ini memiliki sekitar 12 ribu penduduk yang tersebar di 12 pedukuhan. Letaknya yang berbatasan dengan Kecamatan Bumiayu membuat interaksi lintas bahasa menjadi hal yang wajar.

Baca Juga: Tips Murah dan Mudah dari IBI Kota Tegal Biar ASI Lebih Lancar

Bahasa Sunda, yang merupakan bahasa ibu warga Desa Pangebatan, hidup berdampingan dengan bahasa Jawa yang dibawa oleh pendatang dan menetap di desa ini.

“Sejak kecil sampai sekarang, bahasa sehari-hari di rumah menggunakan bahasa Jawa. Tapi saya juga mengerti dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Sunda walaupun terbatas pada Sunda kasar. Demikian pula sebaliknya,” kata Agus Supriyanto, Sekretaris Desa Pangebatan.

Menurut Agus, kondisi tersebut berakar dari sejarah panjang mobilitas penduduk. Ia mengungkapkan, warga asli Pangebatan merupakan penutur bahasa Sunda. Namun, seiring waktu, banyak pendatang dari wilayah berbahasa Jawa menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat.

Baca Juga: 300 Warga Senam Sehat Bareng Anggota Komisi E DPRD Jateng di Bumiayu

Jejak kehidupan dua bahasa terlihat jelas di sebaran pedukuhan. Di Warudoyong, Tanjung, Cilakar, Prapatan, Pangebatan, Tegongan, dan Cimadil, bahasa Sunda masih dominan. Sementara di Dukuh Kidul, Buaran, Sawangan, dan Karangwungu, bahasa Jawa lebih sering terdengar, meski warganya tetap memahami bahasa Sunda.

Agus menyatakan, percampuran dua bahasa tersebut tidak menimbulkan jarak sosial di tengah masyarakat. Ia mencontohkan aktivitas di Pasar Buaran yang menjadi ruang pertemuan warga dengan latar bahasa berbeda.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait