Andi Rustono Meregenerasi Petani melalui P4S PESAT Pemalang

0
Andi Rustono menunjukan tanaman sayuran bahan edukasi di lokasi pelatihan P4S PESAT di Padepokan Lintang Kemukus, Kelurahan Paduraksa, Pemalang, Jumat, 21 Mei 2021. FOTO/PUSKAPIK/ERIKO GARDA DEMOKRASI

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Sejak 2008, Andi Rustono memilih membuka pelatihan bertani dan beternak di padepokannya. Tak bicara soal uang, aktivis di Kota Ikhlas itu ingin meregenerasi petani dan mengedukasi masyarakat lebih mandiri.

Suara puluhan hewan ternak bakal menyambut siapa saja, ketika menilik ke belakang Padepokan Lintang Kemukus, milik Andi Rustono, di Kelurahan Paduraksa, Kabupaten Pemalang.

Lahan belakang padepokan seni budaya itu, Andi Rustono jadikan sebagai Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Pelatihan Sarana Agrobisnis Terpadu (PESAT). “Apa yang saya pelihara di sini saling mendukung, saling keterpaduan, antara pertanian, peternakan dan perikanan,” kata Andi Rustono, Sabtu, 22 Mei 2021.

Tempat pelatihan pertanian dan peternakan sudah Andi gagas sejak 2008 silam. Kini P4S PESAT miliknya itu, sudah bersertifikat P4S Kelas Madya dari Kementerian Pertanian RI.

Tanaman yang dijadikan sebagai pelatihan, hanya tanaman holtikultura, macam sayur-mayur, serta padi. Alasannya, kata Andi, agar bisa diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Bukan bunga-bunga yang mahal. Karena kadang masyarakat mampu beli bunga mahal, tapi harga cabai atau bawang mahal mereka gemboran (teriak) protes. Nah saya menjawab tantangan ironisme-nya itu,” kata Andi.

Di padepokannya itu, Andi melatih peserta mulai dari penyiapan lahan, pemupukan organik, pengendalian hama, panen, pasca panen, hingga pemasaran. “Saya mungkin bisa cari keseharian lain yang lebih menghasilkan, tapi saya ingin meregenerasi petani, mengenalkan ke generasi muda pentingnya bertani, untuk kebutuhan pangan sehari-hari,” kata Andi.

Selain itu, dinamika sosial masyarakat ketika menghadapi kenaikan harga pangan, juga menjadi alasan Andi tetap survive (bertahan) membuka pelatihannya itu. “Masyarakat kadang terpaku untuk mengkonsumsi, sebagai konsumen, jadi ketika ada kenaikan harga, kelimpungan. Padahal, misal dia menanam dua tanaman cabai saja, suatu ketika harga naik, dua tanaman itu kiranya cukup untuk menopang,” katanya.

Penulis: Eriko Garda Demokrasi
Editor: Faisal M

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini