Gila, Pedas! Harga Cabai di Pasar Pemalang

FOTO/PUSKAPIK/DEDI MUHSONI
Iklan

PUSKAPIK.COM,Pemalang- Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di wilayah Kabupaten Pemalang mengalami peningkatan sejak awal tahun 2021. Persoalanya, diduga panen cabai di tingkat petani mengalami penurunan dan kualitas cabai di saat musim penghujan.

Dari pantauan puskapik.com di pasar sayur dan buah Pemalang, kenaikan pada komuditi pangan mengalami lonjakan seperti bumbu dapur, dan kedelai termasuk kenaikan pada cabai dari berbagai jenis.

Salah satu pedagang Fahri (40) mengatakan, kenaikan cabai mulai Desember lalu terutama pada cabai rawit merah yang tembus pada harga Rp. 80.000, cabai merah biasa Rp.28.000, cabai hijau biasa Rp. 25.000 dan cabai keriting Rp.28.000.

Ia menuturkan, kenaikan harga tersebut ditimbulkan akibat pasokan cabai dari petani luar daerah Pemalang ke pasar induk sayur Pemalang terlalu sedikit dibandingkan permintaan para pedagang dan pembeli.

Persoalan lain, diakibatkan faktor cuaca pada akhir tahun 2020 hingga sekarang tidak mendukung pada tanaman cabai, hujan yang turun terus menerus dengan intensitas yang tinggi membuat kualitas cabai tidak baik.

“Padahal permintaan pembeli banyak, terutama pada cabai setan (rawit) yang dikenal sangat pedas, kalaupun harga mahal tetapi stok cabai banyak masih mending, ini sudah mahal juga stok barang tidak ada,” ujar Fahri.

Salah satu pembeli Watun(35) mengatakan, kenaikan harga cabai terutama cabai setan atau biasa dikenal cabai rawit membuat kerugian sendiri pada usaha kuliner yang dijalaninya. Sebab usahanya bidang makanan yang mengandalkan sambal justru tidak bisa berbuat banyak apalagi merubah harga.

“Jika cabai mahal, maka keuntungan usaha kuliner dipastikan merosot bahkan bisa merugi, tetapi untuk kepuasan konsumen, mau tidak mau ya dijalani,” ucapnya.

Hal itu dibenarkan oleh Ketua Paguyuban pasar buah dan sayur Pemalang, Nurpandi, komoditi pangan pada pasar tradisional mengamalami kenaikan harga, hal itu akibat perubahan cuaca.

Penulis: Dedi Muhsoni
Editor: Amin Nurrokhman

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini