Makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi di Lereng Gunung Slamet Sawangan Tegal, Santri Sunan Gunung Jati

Rabu, 5 November 2025 | 22.02
Makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi di Lereng Gunung Slamet Sawangan Tegal, Santri Sunan Gunung Jati

TEGAL, puskapik.com - Makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi di lereng Gunung Slamet tepatnya di Dukuh Sawangan Desa Sigedong, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, merupakan tokoh Kramat yang merupakan santri ...

TEGAL, puskapik.com - Makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi di lereng Gunung Slamet tepatnya di Dukuh Sawangan Desa Sigedong, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, merupakan tokoh Kramat yang merupakan santri Sunan Gunung Jati Cirebon. Sayangnya, jalur menuju makam itu sangat ekstrim. Padahal, bisa menjadi destinasi wisata religi yang menjanjikan. Dukuh Sawangan merupakan perkampungan tertinggi di Kabupaten Tegal. Dukuh yang rata-rata masyarakatnya berprofesi sebagai petani sayuran ini, juga sebagai jalur pendakian menuju puncak Gunung Slamet. Ketinggian pedukuhan terdekat dengan puncak Gunung Slamet itu sekitar 1.800 MDPL, sehingga suasana yang sejuk dan dingin menjadi dukuh itu, nyaman sebagai destinasi wisata. Tak hanya destinasi wisata Bukit Sabana yang berada di Pos 1 jalur pendakian Gunung Slamet via Sawangan, tapi ada destinasi wisata baru yang berpotensi mendatangkan banyak wisatawan. Ya, Makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi yang berada di bukit sebelah kanan Bukit Sabana. Siapakah Mbah Kiai Ahmed Barmawi? Untuk menuju lokasi itu, para pengunjung hanya membayar Rp10 ribu perorang. Seperti jalur pendakian Gunung Slamet via Sawangan, lokasi Makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi dilalui dengan jalan kaki. Namun, pemuda Sawangan telah memfasilitasi para wisatawan dengan menggunakan ojek. Layaknya bermain roller coaster yang memacu adrenalin, naik ojek menuju makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi butuh keberanian khusus. Jalan tanah yang hanya setapak, dengan kendaraan trail membuat jantung berdebar-debar. Kendati para tukang ojek sudah terbiasa dan profesional, namun tetap harus ekstra hati-hati. Saat berjalan kaki, pengunjung akan melewati berbagai jalan ekstrim. Banyak jalan menanjak dan licin. Namun, Medan jalan ektrim terbayarkan dengan pemandangan tanaman sayur yang menyegarkan mata. Saat tiba dipersimpangan, ada tanda penunjuk arah ke Sabana dan Makam. Biasanya, ojek hanya mengantar di titik itu untuk menuju makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi. Jalan sama dengan sebelumnya, namun lebih landai karena menelusuri lembah Bukit Rimpak yang kini dikenal dengan sebutan Bukit Sabana. Sekitar 30 menit berjalan kaki, pengunjung akan disuguhkan pemandangan unik dan menegangkan. Tangga dengan ketinggian sekitar 100 meter dengan kemiringan 90 derajat dengan jumlah 400 anak tangga, menjadi jalan menuju makam kramat tersebut. Tantangan berat ini belum berakhir, karena masih ada sekitar 1 kilometer menuju makam yang berada di tengah hutan lereng Gunung Slamet itu. Jalan setapak yang tepatnya merupakan jalan air, menjadi jalur yang sangat menantang. Pohon besar yang dihuni banyak kera, siap menyambut kedatangan para pengunjung. Sesampainya di lokasi Makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi, pemandangan indah mengobati lelah pengunjung. Bangunan sederhana dengan beratapkan ijuk seluas sekitar 5X10 meter ini, terdapat makam kuno. Kendati bangunan makam sudah modern, namun suasana religi sangat kental. Komplek makam yang terlihat nyaman dan adem itu, juga dilengkapi mushola, tempat wudhu dan WC. Tapi, semuanya dibangun sederhana dengan memanfaatkan alam. Terlebih dengan air alami dari sumber mata air di sekitar lokasi tersebut. "Ini baru dibuka setahun terakhir. Kondisinya masih sederhana yang penting saat peziarah datang bisa nyaman," kata juru kunci Makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi, Ahmad Ali Muamar saat ditemui di Makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi, Ahmad Ali Muamar, Selasa 4 November 2025. Pria berusia 29 tahun yang merupakan warga asli Dukuh Sawangan, mengisahkan dirinya menemukan makam tersebut. Ia mengaku beberapa kali dituntun untuk menuju lokasi makam ini. Dalam penelusurannya, Amar panggilan Ahmad Ali Muamar menemukan candi berupa bebatuan kuno yang tersusun. Candi itu bernama Candi Pawon. Namun, untuk titik makam hanya sekitar 50 meter dari Candi Pawon. Setelah ditemukan titik Makam Mbah Ahmed Barmawi, sejumlah warga membersihkan lokasi makam dan mendirikan bangunan menggunakan kayu. Komplek makam itu juga dibuat gapura dan pagar untuk memberikan kenyamanan bagi para peziarah. "Alhamdulillah, tiap malam Jumat ramai peziarah. Bahkan, banyak juga mengunjungi dari luar daerah," kata Amar, alumni Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah Bedug, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal itu. Amar menyampaikan Mbah Kiai Ahmed Barmawi merupakan tokoh ulama yang merupakan santri dari Sunan Gunung Jati Cirebon. Pada zaman Kerajaan Mataram di era tahun 1.800, Mbah Kiai Ahmed Barmawi diserang penjajah Belanda dan mengasingkan di lereng Gunung Slamet. Bahkan, bersama keluarga dan beberapa santrinya menetap di bukit tersebut. Di Dukuh Sawangan juga ditemukan Candi Lapak yang juga terdapat makam adik Mbah Ahmed Barmawi, yakni Ki Sulton Barmawi. "Saat ini, mungkin masih ada keturunannya di Sawangan. Tapi, kita tidak tahu silsilahnya," kata Amar yang kesehatiannya sebagai petani sayuran itu. Pro kontra keberadaan makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi juga terjadi di Dukuh Sawangan. Namun, Amar hanya bertujuan untuk melestarikan peninggalan leluhur dukuh tersebut. Kendati sejumlah warga juga ikut membantu membangun makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi, namun pihaknya juga membutuhkan bantuan untuk memperindah dan melengkapi fasilitas di makam ini. "Kami tidak ada maksud apapun, hanya untuk nguri-nguri peninggalan para leluhur," ucap Amar. Camat Bumijawa, Darmawan membenarkan adanya potensi wisata religi di Dukuh Sawangan. Namun, akses jalan menuju lokasi memang sangat sulit. Pihaknya mendorong Pemkab Tegal untuk pembangunan jalan yang lebih baik dan nyaman. Potensi wisata religi Makam Mbah Kiai Ahmed Barmawi juga bisa dibarengkan dengan wisata Bukit Sabana. Bahkan, ada mata air pengantin yang juga bisa dijadikan wisata alam lainnya. "Lokasinya masuk wilayah Perhutani. Tapi, Perhutani tidak masalah jika dimanfaatkan untuk wisata, dan diharapkan warga tidak menebang pohon," katanya. Diakui jalan memang masih alami, dan bisa dijadikan jalur trabas hutan. Pasalnya, banyak warga sekitar yang menggunakan motor trail untuk menuju lokasi makam. **

Artikel Terkait