Open post

Bantuan Mulai Mengalir untuk Niti, Warga Brebes yang Tinggal di Kandang Bebek

PUSKAPIK.COM, Brebes – Bantuan pemerinah maupun swasta, mulai mengalir untuk Niti (52) wanita yang hidup di dalam kandang bebek di Kabupaten Brebes.

Dia tidak menyangka bakal mendapat bantuan dari beberapa pihak yang datang secara langsung. Saat didatangi di tempat tinggalnya Selasa 7 Juli 2020, Niti tengah duduk di teras rumah miliki Curi (50), kerabatnya.

Yang datang antara lain rombongan dari Pemkab Brebes. Mereka adalah perwakilan dari Bagian Penanggulangan Kemiskinan Setda, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan Dinas Perwaskim.

Kepala Bagian Penanggulangan Kemiskinan Setda Brebes, Farikha, mengatakan, pihaknya bersama dinas terkait sedang mengupayakan penanganan terhadap kondisi Niti. Termasuk berkoordinasi dengan Dinas Perwaskim untuk masalah tempat tinggal dan Dinas Kesehatan untuk pengobatan perut Niti.

“Selain tidak memiliki tempat tinggal, Niti juga mengidap penyakit di bagian perut. Kita sedang koordinasikan supaya segera tertangani,” ujar Farikha saat melihat langsung tempat tidur Niti di dalam kandang bebek.

Farikha mengungkapkan, Niti selama ini tidak memiliki KTP. Namun kata Farikha, dari keterangan pemilik rumah, Niti berasal dari Desa Kubangwungu. Dia menumpang di rumah milik Curi (50) di Desa Kubangsari, Ketanggungan.

“Makanya untuk memudahkan dalam memproses bantuan, saya sudah minta pihak desa untuk membuatkan KTP buat Niti,” kata Farikha menambahkan.

Sementara, Muhamad Taulani, Kabid Perumahan Dinas Perwaskim mengatakan, untuk mendapatkan bantuan program bedah rumah, ada beberapa persyararan yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah memiliki tanah pribadi.

“Niti ini kan numpang dan tidak memiliki tanah atas namanya. Untuk mendapatkan bedah rumah tidak memenuhi syarat. Tapi saya janji akan membantu melalui dana Baznas buat rehab kandang menjadi kamar yang layak,” kata Muhamad Taulani.

Selain Pemkab, bantuan juga datang dari pihak swasta. Pengusaha asal Brebes, Paramitha Widya Kusuma juga memberikan bantuan sembako untuk keperluan makan sehari hari.

Sebelumnya diberitakan, Niti adalah wanita sebatang kara yang hidup di kandang bebek. Selain hidup sendirian, warga Brebes itu juga menderita sakit. Perutnya teru membesar sampai sulit bergerak.

Kontributor : Fahri Latief
Editor : Amin Nurrokhman

Open post

Lihat, Warga Brebes, Sakit-sakitan dan Hidup di Kandang Bebek

PUSKAIK.COM, Brebes – Sudah hidup sebatang kara, sakit-sakitan pula, dan tinggal di kandang bebek. Itulah yang dialami seorang wanita paruh baya di Desa Kubangsari, Kecamatan Ketanggungan, Brebes.

Malang benar nasib yang dialami Niti (52). Sehari-hari dia tidur di kandang bebek yang berada di samping rumah saudaranya. Tidak hanya itu, wanita ini juga mengidap penyakit hingga perutnya membesar dan sulit bergerak.

Tempat tidur Niti berada dalam kandang berukuran 5 x 3 meter. Di dalam kandang ini, terdapat sebuah dipan kayu yang dijadikan tempat tinggal sehari hari.

Di atas dipan, tergantung sebuah ceting (tempat nasi) untuk menyimpan makanan dan lauknya. Niti sengaja menyimpan makanannya dengan cara digantung agar tidak dimakan unggas.

Karena berada dalam kandang, tidak mengherankan dipan Niti ini banyak ditemukan kotoran ayam. Selain itu, aroma kotoran ayam ini juga membuat tidak nyaman.

Kandang tempat tinggal Niti ini berada di sebelah rumah keluarga Curi (50) yang masih satu keluarga. Keluarga Curi mengaku tidak bisa memberikan tempat yang layak lantaran tidak memiliki kamar cukup. Di rumah ini hanya ada dua kamar yang dipakai untuk anak dan orang tua.

“Di rumah ini kan hanya ada dua kamar. Satu buat saya sama suami dan satu lagi untuk anak anak,” ujar Curi , Senin 6 Juli 2020sore.

Curi menuturkan, meski tidak bisa memberikan tempat tinggal yang layak, namun keluarganya setiap hari memberikan makan buat Niti. Selain dari keluarga, Niti juga sering diberi makanan dari para tetangga.

Keluarga Curi mengaku iba melihat kondisi Niti. Betapa tidak, wanita itu juga mengidap penyakit di bagian perutnya hingga membesar seperti orang hamil tua.

“Penyakitnya itu sudah hampir delapan tahun. Dulu pernah berobat ke dokter tapi tidak sembuh. Akhinya dibiarkan sampai sekarang,” sambung Curi.

Niti saat ditemui mengatakan, dirinya pindah dari Kubangwungu setelah Sadi, ayahnya meninggal dunia. Sejak saat itu, dia memilih menumpang di rumah Curi, kerabat yang dimilikinya.

“Tidur di sini sama bebek, ayam angsa, ” terang Niti.

Soal penyakit perutnya itu, Niti mengaku kian hari kian membesar. Kondisi perut yang buncit ini membuat Niti tidak leluasa bergerak.

Sehari hari, Niti menghabiskan waktu dengan berbaring dan mengurus unggas milik Curi. Tidak banyak aktifitas yang dilakukan wanita ini dengan kondisi perut membesar.

Diwawancara terpisah, Kades Kubangsari, Siswo mengatakan, secara adminstratif Niti bukan lah warganya marena masih tercatat sebagai warga Kubangwungu. Dia berstatus menumpang di rumah kerabat dekat yang ada di Desa Kubangsari.

“Dia sebenarnya bukan warga kami. Di sini hanya numpang hidup. Tapi meski begitu, warga desa banyak yang peduli memberikan makanan buat Niti,” ungkap Kades.

Siswo berjanji akan mencarikan solusi terbaik, termasuk dalam pengobatan penyakitnya itu.

Kontributor : Fahri Latief
Editor : Amin Nurrokhman

Open post

Ibu Lumpuh, Tinggal di Gubuk Nyaris Ambruk

PEKALONGAN (PUSKAPIK)-Rohayah ( 48) warga RT 3 RW 6 Dukuh Kaso Gunung. Desa Doro, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, tinggal sendirian di gubung kecil. Ibu paruh baya ini sudah tiga tahun hanya tergeletak di tempat tidur, kondisinya lumpuh, badan dan tangan kaku sulit digerakkan.

Semua aktivitas hidup dilakukan di atas tempat tidur. Dari makan, minum, sampai buang hajat, juga dilakukan di kamar sempit dan pengap itu. Rumah, atau lebih tepatnya gubuk itu sangat sempit. Hanya sekira 3 x 4 meter, berlantai tanah, berdinding bambu serta kayu bekas, dan bolong di sana sini serta tak ada pintu. Kayu penyangga sebagian lapuk dan atap juga rusak, bocor jika hujan bahkan nyaris ambruk.

Tak ada peralatan di dalam rumah, hanya tempat tidur tanpa alas tak ada alat dapur, alat makan juga tidak ada. Suaminya sudah lama meninggalkannya tanpa jejak dan tidak ada kabar berita. Keluarga yang lain sekali- kali ke rumah ini untuk menengok juga mengirim makanan.

“Sudah tiga tahunan tak bisa ke mana- mana hanya tiduran saja. Makan-minum ya kalau ada yang ngasih. Kadang tidak makan karena tak bisa kemana- mana, “ kata Rohayah, Jum’at (17/1/2020)

Warga serta keluarga yang dekat selama ini hanya bisa berupaya membantu seadanya, namun masih belum cukup. Tanah yang ditempati juga punya saudara sehingga diharapkan ada bantuan agar bisa ada tempat atau rumah yang layak untuk ibu malang itu.

“Kami sering ke sini menengok. Kadang bawa makanan atau sekadar meihat kondisnya. Kami juga membantu dan memandikannya jika sudah kotor ,” kata Uripah, keluarga dekatnya.

Beberapa kali petugas Puskemas dan kecamatan mengunjungi dan sekadar memberikan obat namun tidak banyak menolong. Diharapkan ada dermawan bisa memberi bantuan dan bisa membangun rumah serta perawatan untuk ibu miskin itu.(Yon)

Scroll to top