Salat Tarawih di Posko Pengungsian Korban Tanah Bergerak Padasari Tegal, Ini Rasanya

Rabu, 25 Februari 2026 | 12.06
 Warga Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal shalat tarawih di mushola darurat posko Majelis Az Zikir Wa Rotibain Padasari, Selasa malam 24 Februari 2026. (Dok)
Warga Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal shalat tarawih di mushola darurat posko Majelis Az Zikir Wa Rotibain Padasari, Selasa malam 24 Februari 2026. (Dok)

Ramadan 1447 H di pengungsian, warga Desa Padasari tetap khusyuk beribadah meski rumah dan masjid rusak akibat bencana tanah bergerak.

SLAWI, puskapik.com - Masih teringat suasana meriah Ramadan di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal tahun 2025 lalu. Kini, suasana itu tinggal kenangan, karena warga Padasari yang terdampak tanah bergerak, harus menjalani ibadah puasa Ramadan 447 Hijriah/2026 di posko pengungsian.

Suara sholawat dan lantunan ayat-ayat suci Alqur'an menggema di Desa Padasari setiap Ramadan, karena kampung ini dikenal sangat agamis. Hal itu juga diperkuat dengan keberadaan Pondok Pesantren Al Adalah yang santrinya mencapai ratusan orang.

Kini, pascabencana tanah bergerak gema sholawat dan lantunan ayat-ayat suci Alqur'an itu, senyap. Ratusan rumah yang terbengkalai akibat rusak parah, membuat Padasari layaknya desa mati. Tak hanya rumah, fasilitas keagamaan juga runtuh akibat pergeseran tanah sejak tiga pekan lalu.

Baca Juga: Momentum HPSN 2026, Dedy Yon Gaungkan Gerakan Kota Tegal Asri

"Saya membayangkan suasana Ramadan bersama keluarga di rumah seperti tahun-tahun sebelumnya. Keluarga masih bisa berbuka puasa di rumah dengan hidangan takjil yang lengkap. Nyaman rasanya, tapi saat ini harus prihatin," kata seorang warga Padasari, Warningsih (45) yang mengungsi di posko Majelis Az Zikir Wa Rotibain Padasari saat ditemui di mushola darurat, Selasa malam 24 Februari 2026.

Walaupun Warningsih terlihat raut sedih dan matanya berkaca-kaca, namun wanita ini tetap menunjukan rasa syukur, karena masih bisa menjalankan ibadah puasa dan shalat tarawih di pengungsian. Walaupun serba terbatas, namun Warningsih bisa menjalankan shalat dengan khusuk.

Suasana penuh haru dan kekhusyukan tetap terasa di antara para pengungsi. Mereka berupaya mempertahankan semangat beribadah meski masjid desa yang biasanya digunakan mengalami dampak akibat pergerakan tanah yang terjadi sebelumnya.

Saat ini, proses penanganan pascabencana masih terus berjalan dan tahap rekonstruksi belum sepenuhnya rampung. Kondisi tersebut membuat ratusan kepala keluarga masih harus tinggal di pengungsian dan beradaptasi dengan berbagai keterbatasan selama menjalani bulan suci Ramadan.

Untuk memenuhi kebutuhan sahur dan berbuka puasa, para pengungsi mengandalkan makanan dari dapur umum yang tersedia di sekitar lokasi. Namun, sebagian warga berinisiatif menambah lauk secara mandiri agar tidak bosan dengan menu yang ada.

Di tengah situasi sulit, rasa kebersamaan di antara para pengungsi menjadi kekuatan utama. Meskipun menjalani Ramadan di tenda darurat memberikan pengalaman yang berbeda, semangat ibadah dan solidaritas antarwarga tetap terjaga, mencerminkan ketabahan para korban tanah bergerak di Desa Padasari.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait