Siti Inggil Jejak Sejarah Majapahit dan Tempat Singgah Spritual Para Presiden
Rabu, 10 September 2025 | 20.17

MOJOKERTO, puskapik.com - Bangsa besar adalah yang bisa menghargai karya dan peninggalan para leluhur. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus wajib merawat serta melestarikannya. Salah satu peningg...
MOJOKERTO, puskapik.com - Bangsa besar adalah yang bisa menghargai karya dan peninggalan para leluhur. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus wajib merawat serta melestarikannya.
Salah satu peninggalan leluhur yang diyakini menjadi bukti jejak sejarah Kerajaan Majapahit yaitu Situs Siti Inggil di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Bangunan kuno ini dipercaya sebagai petilasan pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya yang bergelar Maharaja Kertarajasa Jayawardahana.
Banyak julukan untuk Situs Siti Inggil ini, ada yang mengatakan Situs Siti Inggil ini dengan nama Petilasan Raden Wijaya, ada juga yang menamakan Lemah Duwur.
Istilah dari Lemah duwur diambil dari Siti Inggil yang berarti Siti itu tanah yang bahasa jawanya lemah, dan Inggil itu tinggi yang bahasa jawanya duwur, jadilah nama lemah duwur.
Banyak sekali dari jajaran pejabat-pejabat yang berkunjung. Bahkan para pemangku negeri, yaitu Presiden pertama Bapak Ir Soekarno, Ibu Megawati, KH Abdurrahman Wahid (Gusdur), Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta yang sering datang melakukan meditasi spiritual di tempat ini Presiden Soeharto.
Dinamakan Petilasan Raden Wijaya dikarenakan di dalam Siti Inggil terdapat lima makam dan di batu nisan tertulis nama-nama. Yakni makam Raden Wijaya, Garwo Padmi Ghayatri, Garwo Selir Dhoro Pethak, Garwo Selir Dhoro Jinggo, serta Abdi Kinarsih Kaki Regel.
Di luar kompleks Situs Siti Inggil terdapat Sanggar Pamujan dan dua makam yang bertuliskan Sapu Jagad dan Sapu Angin yang merupakan pengawal dari Raden Wijaya.
Suasana komplek situs Siti Inggil sangat sejuk karena ditumbuhi pohon besar yang memagari bagian utama. Bangunan utama tersusun dari batu bata kuno yang luasnya sekitar 15x15 meter persegi.
Dua tangga di sisi selatan dan timur menjadi jalan akses masuk. Pada tembok dekat pintu ada pula ornamen dua wanita berkemben yang sedang duduk bersila dan bersimpuh.
Di dalam bangunan utama terdapat 5 makam dihiasi kijing dan berbatu nisan. 5 makam itu dipercaya makam Raden Wijaya. Kemudian makam Gayatri (permaisuri Raden Wijaya) dan dua selirnya yang bernama Dhoro Pethak dan Dhoro Jinggo, serta Abdi Kinasih Kaki Regel.
Selir pertama disebut Dhoro Petak karena kulitnya putih dan ia berasal dari Tiongkok. Sedangkan selir kedua disebut Dhoro Jinggo sebab kulitnya kuning dan ia perempuan terhormat dari Kamboja.
Selain itu, ada juga makam dari Abdi Kinasih atau Abdi Dalem dari Raja Hayam Wuruk dan permaisuri. Di kompleks Siti Inggil juga terdapat dua makam di luar bangunan utama.
Dua makam ini berada tepat di sebelah kiri sebelum memasuki bangunan petilasan yang selalu terkunci.
Menurut Juru Kunci Siti Inggil, Slamet, situs ini ditemukan masyarakat Kedungwulan sekitar tahun 1965. Kabar penemuan situs Siti Inggil sampai di dengar Jenderal Besar TNI Soeharto. Kemudian Presiden RI kedua itu memerintahkan Pak Seno untuk membangun tangga dan tembok di atas bangunan kuno.
"Tangga dan bangunan di atas struktur kuno dibangun tahun 1968-1970 oleh Pak Seno atas perintah Jendral Soeharto. Dulu Jendral Soeharto sering ke sini untuk bersemedi," katanya.
Meski diyakini makam Raden Wijaya, sesungguhnya tidak ada jasad yang dikubur di dalamnya. Yang terpendam hanyalah sebagian abu jasad Sang Raja pertama Kerajaan Majapahit tersebut.



