Pemuda Taraban Kritik Jalan Rusak Lewat Hiphop Ngapak, Bupati Brebes Beri Respons Positif

Rabu, 27 Agustus 2025 | 20.27
Pemuda Taraban Kritik Jalan Rusak Lewat Hiphop Ngapak, Bupati Brebes Beri Respons Positif

PUSKAPIK.COM, Brebes - Empat pemuda Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, punya cara unik menyuarakan keresahan warga. Melalui musik hiphop berbahasa ngapak, mereka melontarkan kritik ...

PUSKAPIK.COM, Brebes - Empat pemuda Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, punya cara unik menyuarakan keresahan warga. Melalui musik hiphop berbahasa ngapak, mereka melontarkan kritik pedas soal jalan rusak di desanya. Video berdurasi 53 detik yang berisi lirik satir disertai visual jalan berlubang itu dengan cepat viral di media sosial, menuai perhatian publik. Menariknya, kritik tersebut tidak dibalas dengan penolakan, melainkan diapresiasi langsung oleh Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma. "Saya sangat mengapresiasi kreativitas anak-anak muda Taraban. Mereka menyampaikan keresahan dengan cara yang cerdas, jenaka, dan menyentuh hati. Ini adalah bentuk kritik yang kreatif sekaligus membawa kedamaian," ujar Paramitha, Selasa (26/8/2025). Bupati menegaskan bahwa jalan yang dikeluhkan telah masuk dalam prioritas pembangunan dan sudah dianggarkan untuk perbaikan tahun ini. "Saya minta masyarakat bersabar. Jalan tersebut sudah kami anggarkan dan akan segera diperbaiki. Kritik seperti ini menunjukkan bahwa warga masih peduli dan ingin perubahan. Kami mendengarnya, dan kami akan menjawabnya dengan tindakan nyata," lanjutnya. Paramitha juga menekankan bahwa pemerintah tidak anti-kritik. Menurutnya, ekspresi warga melalui seni adalah bagian penting dari demokrasi yang sehat dan harus dihargai. "Kalau jalan rusak bisa melahirkan lagu sekeren itu, bayangkan apa yang bisa tercipta jika Brebes makin baik. Mari kita bangun Brebes bersama-sama, dengan semangat, karya, dan harapan," pungkas Bupati. Kepala Desa Taraban, Umma Farida S, membenarkan kondisi jalan yang memang sudah lama rusak. Ia menilai kritik warga lewat musik justru mencerminkan rasa cinta terhadap desa dan kepercayaan pada pemerintah. "Jalan yang mereka keluhkan memang sudah lama rusak, dan saya tidak menutup mata. Tahun ini, anggarannya sudah disiapkan dan akan segera direalisasikan," ungkapnya. Aksi pemuda Taraban ini menjadi contoh bahwa kritik tidak harus dilakukan dengan amarah. Musik, logat ngapak, dan ironi sosial justru menjadi medium yang lebih efektif untuk menyentuh hati dan menggugah kesadaran publik. Dan ketika pemerintah merespons dengan empati dan solusi, maka kritik berubah menjadi kolaborasi.

Artikel Terkait