Budaya dan Perlindungan Sosial Menguat di Pesisir Pekalongan
Senin, 15 Desember 2025 | 01.39

PEKALONGAN, puskapik.com - Ratusan warga pesisir memadati Lapangan Wonokerto Wetan, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Sabtu 13 Desember 2025, dalam rangka Pekan Hari Nusantara 2025. Kegiatan ...
PEKALONGAN, puskapik.com - Ratusan warga pesisir memadati Lapangan Wonokerto Wetan, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Sabtu 13 Desember 2025, dalam rangka Pekan Hari Nusantara 2025.
Kegiatan ini memadukan pementasan teater rakyat, diskusi publik serta layanan perlindungan sosial bagi nelayan dan awak kapal perikanan atau ABK yang terdampak perubahan iklim.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program PROSPER atau Protecting Rural & Ocean-dependent Societies through Participatory Economic Resilience yang dilaksanakan oleh Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia dengan dukungan People’s Courage International (PCI).
Program PROSPER berfokus pada penguatan perlindungan sosial dan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya nelayan, pekerja perikanan migran dan keluarganya.
Rangkaian Pekan Hari Nusantara 2025 telah dimulai sejak sore hari.
Sejak pukul 16.30 WIB, masyarakat Wonokerto dan sekitarnya telah mengikuti pra-acara yang diisi dengan berbagai layanan sosial dan edukasi, antara lain Aksi Donor Darah, sosialisasi dan penyuluhan jaminan ketenagakerjaan dari BPJS Ketenagakerjaan, serta sosialisasi perlindungan Awak Kapal Perikanan (ABK) oleh Tim National Fishers Center (NFC) DFW Indonesia.
Pra-acara ini menjadi ruang awal bagi masyarakat pesisir untuk memperoleh informasi praktis mengenai hak-hak ketenagakerjaan, jaminan sosial serta mekanisme perlindungan dan pengaduan bagi nelayan dan ABK sebelum memasuki agenda utama kegiatan.
Memasuki agenda utama, kegiatan dilanjutkan pada pukul 19.30 WIB dengan seremonial pembukaan.
Acara dibuka melalui sambutan dari Koordinator Proyek PROSPER DFW Indonesia, Beni Sabdo Nugroho serta Kepala Desa Wonokerto Wetan, Nazir Aziz, yang menegaskan pentingnya perlindungan sosial dan kolaborasi lintas pihak bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.
Koordinator Proyek PROSPER DFW Indonesia, Beni Sabdo Nugroho menyampaikan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan budaya menjadi kunci agar program perlindungan sosial dapat dipahami dan diakses secara luas oleh masyarakat pesisir.
"Nelayan dan awak kapal perikanan adalah kelompok yang paling merasakan dampak perubahan iklim dan risiko kerja di laut. Melalui Pekan Hari Nusantara ini, kami ingin memastikan bahwa informasi tentang perlindungan sosial, jaminan ketenagakerjaan dan mekanisme pengaduan benar-benar hadir dan dekat dengan masyarakat," ujar Beni.
Sementara itu, Kepala Desa Wonokerto Wetan, Nazir Aziz, menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini dan menilai Pekan Hari Nusantara sebagai upaya nyata yang memberikan manfaat langsung bagi warganya.
"Kami mengapresiasi kegiatan ini karena tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan edukasi dan layanan nyata bagi masyarakat desa, khususnya nelayan dan keluarganya. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan memperkuat perlindungan sosial di tingkat desa," tutur Nazir Aziz.
Berbeda dari kampanye konvensional, Pekan Hari Nusantara di Wonokerto mengangkat pendekatan budaya melalui pementasan teater oleh Kelompok Teater Wot, kelompok seni lokal yang telah lama merekam realitas kehidupan nelayan pesisir.
Pementasan ini menggambarkan risiko kerja nelayan, dampak perubahan iklim hingga kerentanan awak kapal perikanan terhadap eksploitasi.
Pementasan teater kemudian dilanjutkan dengan diskusi publik yang menghadirkan perwakilan DFW Indonesia dan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI).
Diskusi membahas kondisi kerja nelayan dan ABK, tantangan akses jaminan sosial serta perlindungan sosial adaptif di tengah krisis iklim yang semakin nyata di wilayah Pantura.
Perwakilan DFW Indonesia menyampaikan bahwa nelayan dan ABK masih menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari jam kerja berlebihan, risiko keselamatan di laut hingga keterbatasan akses terhadap jaminan sosial ketenagakerjaan dan kesehatan.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan informasi perlindungan sosial tidak berhenti di level kebijakan, tetapi benar-benar sampai dan bisa diakses oleh nelayan dan keluarganya," ujar perwakilan DFW Indonesia.
Sementara itu, perwakilan KNTI menyoroti bahwa perubahan iklim telah memperparah kerentanan nelayan tradisional, baik dari sisi pendapatan maupun keselamatan kerja.
Diskusi ini menjadi ruang bersama untuk membangun pemahaman sekaligus mencari solusi perlindungan yang lebih inklusif.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, DFW Indonesia juga menghadirkan National Fishers Center (NFC) melalui pembukaan posko layanan dan aduan di Posko Informasi PROSPER, Desa Tratebang, Kecamatan Wonokerto.
Posko ini beroperasi pada 14-20 Desember 2025 dan berfungsi sebagai pusat informasi, konsultasi, serta mekanisme pengaduan (grievance mechanism) bagi nelayan dan awak kapal perikanan migran.
Melalui NFC, nelayan diharapkan memiliki akses langsung terhadap pendampingan kasus, informasi hak-hak ketenagakerjaan, serta perlindungan sosial yang selama ini sulit dijangkau.
Pekan Hari Nusantara 2025 menjadi bukti bahwa kolaborasi antara masyarakat, seniman lokal, organisasi masyarakat sipil dan pemerintah desa dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun kesadaran publik.
Pendekatan berbasis budaya dinilai efektif untuk menjangkau masyarakat pesisir sekaligus memperkuat ketahanan sosial di tengah krisis iklim.
DFW Indonesia berharap kegiatan ini dapat mendorong perhatian lebih luas dari para pemangku kepentingan terhadap pentingnya perlindungan sosial adaptif bagi pekerja perikanan sebagai bagian dari upaya keadilan sosial dan keberlanjutan wilayah pesisir. **
Artikel Terkait

Sterilisasi Ketat GPU Kajen, Polres Pekalongan Pastikan Natal Bersama Aman

Kepesertaan Dinonaktifkan, BPJS Kesehatan Pekalongan Sarankan Daftar Mandiri

Warga dan Polres Pekalongan Gelar Kerja Bakti Rampungkan Jembatan Trajumas-Bodas
