Hasil Menjanjikan, Petani Tegal Lirik Budidaya Tembakau

Jumat, 5 September 2025 | 21.22
Hasil Menjanjikan, Petani Tegal Lirik Budidaya Tembakau

SLAWI, puskapik.com - Para petani di Kabupaten Tegal, kini tertarik untuk membudidayakan tanaman tembakau di lahannya. Bahkan, mereka sekarang terus menggembangkan budidaya tembakai ini, lantaran hasi...

SLAWI, puskapik.com - Para petani di Kabupaten Tegal, kini tertarik untuk membudidayakan tanaman tembakau di lahannya. Bahkan, mereka sekarang terus menggembangkan budidaya tembakai ini, lantaran hasilnya menjanjikan. Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tegal menyebutkan, di tahun 2025 luasan tanam tembakau mencapai 215 hektar. Luas tanam ini mengalami kenaikan disbanding tahun 2024 yang hanya 115 hektar. Sedangkan jumlah petani yang menanam tembakau sebanyak 595 orang. Mereka merupakan para petani yang berada di dataran tinggi. Salah seorang petani tembakau di Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, Khotibul Umam mengaku, ia mulai menanam tembakau sejak 2022 secara mandiri. Budidaya tembakau berada di lahan seluas 1 hektar. Tembakau yang di tanam varietas genjah kenongo yang memiliki daun lebar. "Saya belajar budidaya tembakau ini dari petani di Kecamatan Bojong yang sudah lebih dulu membudidayakan tanaman semusim ini," ucapnya Jumat 5 September 2025. Sebelum mengenal tembakau, para petani di desannya biasa menanam sayur mayur. Dalam setahun, petani menanam sayur mayur sebanyak tiga kali. Dari tiga kali tanam ini, ada satu masa petani mengalami kesulitan air. Ini biasanya terjadi di bulan Maret hingga Mei. Di bulan-bulan ini, petani hanya mengandalkan air hujan. Hal ini menyebabkan sayuran tumbuh tidak maksimal, bahkan gagal panen. Untuk menyiasati gagal panen sayur, ia dan kelompoknya mencoba budidaya tembakau. Di masa sulit air, tanaman tembakau ini dapat tumbuh dengan baik. “Kami beralih ke tembakau karena masalah pengairan,” kata Umam yan juga Ketua Kelompok Tani Gagar Mayang ini. Terkait Harga jual, lanjut Umam, bisa lebih tinggi dibanding sayuran. Untuk daun basah bagian terbawah atau koseran harganya Rp 1.500 per kilogram. Harga ini bisa lebih tergantung kualitas daun tanaman. Saat harga anjlok, petani juga bisa mengolahnya sebagai tembakau iris atau Rajang. Selain itu, bisa menyimpannya sebagai tembakau kering. Dengan cara ini, petani bisa menjual dengan harga lebih tinggi. “Untuk tembakau kering semakin lama di simpan, harganya bisa mencapai tiga kali lipat,” terang Umam. Untuk tembakau sundukan yang telah dikeringkan, sambung dia, harga koserannya bisa mencapai Rp 20.000 per kilogram. Daun paling atas bisa Rp 35.000 per kilogram. Dari awal budidaya di lahan seluas 1 hektar, kini kelompok Gagar Mayang telah menanam tembakau di lahan seluas 35 hektar. Anggota yang sebelumnya hanya 10 orang sekarang bertambah menjadi 60 orang. “Sekarang kami dapat bantuan penuh dari DBHCHT. Mulai bibit, pupuk, mesin rajang, green house untuk tempat menjemur daun tembakau hingga asuransi. Petani hanya modal tenaga, lahan dan pestisida ,” pungkasnya. **

Artikel Terkait