Desa Wisata Cempaka Tegal Terapkan Pembayaran Nontunai QRIS

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Muhammad Taufik Amrozy (memegang mic) menyerahkan kode QRIS kepada Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Cempaka, Abdul Khayi, di Pasar Slumpring Desa Cempaka, Minggu siang (16/02/2020). FOTO/PUSKAPIK/WIJ

SLAWI (PUSKAPIK) – ‎Pasar Slumpring di Desa Wisata Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal kini melayani transaksi pembayaran nontunai menggunakan QR code keluaran Bank Indonesia, QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard). Pembayaran nontunai menggunakan QRIS itu untuk transaksi penukaran uang dengan Irad atau uang bambu, pembayaran parkir dan toilet di Pasar Kuliner Tradisional yang buka setiap hari Minggu tersebut.

Penerapan QRIS di desa wisata ini menjadi yang pertama di Indonesia. QRIS merupakan QR code standar di Indonesia untuk semua alat pembayaran berbasis digital seperti LinkAja dan OVO

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal Muhammad Taufik Amrozy mengatakan, penerapan QRIS untuk transaksi pembayaran di Desa Wisata Cempaka merupakan tindak lanjut dari ‎Gerakan Nasional Non Tunai yang sudah dicanangkan pada 2014 dengan membudayakan transaksi nontunai.

Menurut Taufik, kampanye nontunai harus terus dilanjutkan secara masif termasuk di berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.

“Salah satunya di bidang pariwisata. Ini yang pertama di Indonesia penerapan QRIS untuk transaksi pembayaran di Desa Wisata,” kata Taufik di sela sosialisasi penerapan QRIS di Pasar Slumpring, Minggu (16/02/2020).

‎Saat ini, imbuh Taufik, sudah terjadi pergeseran pola pengeluaran masyarakat dari konsumsi ke leisure, seperti mengunjungi tempat-tempat wisata. Tren pergeseran itu terutama terjadi di kalangan usia muda.

‎”Itu artinya leisure di tingkat paling rendah pun bisa dilakukan, seperti di Pasar Slumpring ini. Jadi QRIS tidak hanya masuk ke transaksi-transksi yang sifatnya bernilai besar, seperti ke hotel, ke Bali atau ke mana. Tapi, juga transaksi di pasar rakyat seperti ini,” jelas Taufik.

Menurut Taufik, penerapan transaksi nontunai memiliki sejumlah manfaat, di antaranya lebih efisen, cepat, dan aman dari kejahatan karena cukup menggunakan telepon seluler.‎ Dengan transaksi nontunai, anggaran yang dikeluarkan negara untuk mencetak uang juga bisa lebih dihemat karena kebutuhan uang tunai berkurang. Selain itu, juga mendorong peningkatan indeks government Indonesia karena dengan transaksi nontunai menjadi transparan dan controlable.

“Biaya cetak uang itu nilainya mencapai triliunan. Dengan kita noncash berarti menghemat kebutuhan uang cash,” katanya.

Taufik juga berharap penerapan QRIS di Desa Wisata Cempaka bisa semakin menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Sehingga kesejahteraan masyarakat juga meningkat.

Respons positif dikemukakan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cempaka Abdul Khayi. Mantan Kepala Desa Cempaka ini mengatakan, pada hari pertama penerapan Minggu (16/02/2020), jumlah transaksi pembayaran yang menggunakan QRIS‎ mencapai sekitar 50 transaksi.

“Setelah diterapkan respons dari pengunjung bagus. Tanggung jawab kami selanjutnya adalah bagaimana kami terus menyosialiasikannya kepada pengunjung. Ke depan semoga lebih baik lagi,” ujarnya.

‎Afin (28), salah satu pengunjung Pasar Slumpring, mengatakan, penerapan QRIS untuk transaksi pembayaran sangat memudahkan terutama bagi pengunjung yang tidak membawa uang tunai.

“Perjalanan ke sini tadi nyari-nyari ATM nggak ada, uang di dompet juga tidak ada, aku bingung pakai apa. Untungnya sudah ada QRIS, jadi bisa langsung scan barcode pakai OVO,‎ dan dapat koin untuk transaksi,” ujarnya.(WIJ)

Tinggalkan Balasan