Hardiknas 2021, Perbaikan Mutu Pendidikan di Pemalang, Harus Menjadi Prioritas

0
Mokhammad Safi'i, anggota Komisi D, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pemalang.FOTO/PUSKAPIK/ERIKO GARDA DEMOKRASI

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2021, perbaikan mutu harus menjadi orientasi sektor pendidikan di Kabupaten Pemalang ke depan.

Itu disampaikan Mokhammad Safi’i, Anggota Komisi D, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pemalang.

Menurut Safi’i, dalam peringatan Hardiknas 2021 ini, mutu sektor pendidikan di Kabupaten Pemalang harus ditingkatkan. Serta, memberikan penghargaan, kepada semua yang terlibat, yaitu terkait kompetensi.

“Pendidikan harusnya sudah mulai berorientasi ke persoalan mutu, kalau soal infrastruktur kita tinggal sedikit. Tinggal kurang lebih sekitar 126 ruang kelas yang perlu diperbaiki,” ujar Safi’i, Minggu 2 Mei 2021.

Peningkatan mutu pendidikan ini, kata Safi’i, harus diawali dengan peningkatan mutu para tenaga pendidik. Seperti melalui workshop atau seminar, yang bisa berpengaruh kepada dunia pendidikan secara keseluruhan.

Perhatiannya juga diberikan kepada tenaga pendidik non-PNS. DPRD terus mendorong agar tenaga pendidik non-PNS yang terdaftar di dapodik, untuk dapat mengikuti tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Kami sangat berharap yang mengabdi lama ini yang ikut seleksi, yang baru-baru nanti lah, kasihan yang lama-lama, sudah di atas 15 tahun pengabdian mereka,” jelas Safi’i.

Karena, ungkap Safi’i, selama ini mereka juga profesional, dibuktikan dengan ada banyak pelajar yang lulus selama pengabdian. Ia juga berharap penerimaan pengabdian tenaga pendidik, harus dibuka sesuai dengan kebutuhan.

“Misalkan sampai dengan kebijakan ini selesai tetap tidak lolos (tes PPPK/CPNS), ya kita pikirkan kesejahteraan mereka, paling tidak mendekati atau lebih dari UMK,” terang Safi’i.

Mengenai pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ditengah pandemi Covid-19, Safi’i berharap uji coba pendidikan tatap muka (PTM) yang sedang dilakukan saat ini, bisa menjadi pijakan untuk kembali normal.

“Dengan pendidikan seperti itu (daring) bisa menjadikan generasi blank. Siswa sekarang kan tidak memahami materi pendidikan secara utuh, dia hanya mengikuti pembelajaran lewat daring. Tidak ada pembelajaran pendekatan dari hati ke hati, padahal pendidikan yang masuk dari hati ke hati, ada sentuhan dari guru ke murid, ada tatap muka, silaturahim,” jelas Safi’i.

Karena menurut Safi’i, sejatinya pendikan bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mentransfer akhlak dan adab.

Penulis : Eriko Garda Demokrasi
Penulis: Amin Nurrokhman

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini