Panen Raya, Petani di Tegal Merugi, Kenapa?
- calendar_month Sen, 22 Mar 2021

Dua orang petani di Kelurahan Kaligangsa Wetan, Kecamatan Margadana, Kota Tegal, sedang menjemur gabah yang baru dipanen, Senin siang, 22 Maret 2021.FOTO/PUSKAPIK/WIJAYANTO

PUSKAPIK.COM, Tegal – Petani di sejumlah daerah saat ini mengeluhkan anjloknya harga gabah, tak terkecuali para petani di Kota Tegal. Menurut para petani, harga gabah anjlok akibat adanya rencana pemerintah membuka kran impor beras.
Udi (55), salah satu petani di Kelurahan Kaligangsa Wetan, Kecamatan Margadana, Kota Tegal, mengungkapkan, harga tebasan gabahnya kini hanya berkisar Rp 15 juta per hektar. Padahal, sebelum ada isu impor beras harga tebasan bisa mencapai Rp 20 juta lebih per hektare.
“Sekarang ini cuma lima belas jutaan per hektar karena mau ada beras impor. Kalau segitu petani tidak untung. Biaya pengolahan lahannya saja lebih dari itu,” ungkap Udi kepada Puskapik.com disela-sela memanen sawahnya, Senin siang, 22 Maret 2021.
Udin mengungkapkan, harga tebasan gabahnya jauh di bawah biaya pengolahan lahan yang harus dia keluarkan sejak dari awal tanam hingga panen yang mencapai sekitar Rp 18 juta rupiah. Antara lain untuk pengolahan tanah, tenaga tanam, pupuk, obat-obatan, pemeliharaan dan panen.
“Biaya semuanya sekitar delapan belas juta. Jelas petani ruginya tidak sedikit,” ungkapnya.
Menurut Udin, hitungan tersebut belum termasuk jika petani gagal panen. Karena tidak semua lahan pertanian akan menghasilkan panenan yang bagus. Karena alasan itulah dia menolak impor beras.
“Saya mewakili petani lainnya menolak impor beras,” tegasnya.
Kepala Bulog Kantor Cabang Pekalongan, Heriswan, saat dikonfirmasi terkait harga gabah ditingkat petani yang anjlok, mengatakan, petani tidak perlu kuatir. Pihaknya siap untuk menyerap gabah petani dengan harga tinggi asalkan memenuhi standar kualitas yang ditentukan oleh Bulog.
- Penulis: puskapik