Open post

Soliloqui Covid-19

YAKIN virus itu ada? Yakin, ada!.
Takut? iya lah, takut.
Waspada? iya, pasti.
Cuci tangan pakai sabun berkali-kali sehari? iya, rata-rata yang pakai sabun tiga kali.
Pakai masker? iya, pas naik kereta, kebetulan saya sering melongo tidur di kereta, masker buat nutupin.

Minta anak-anak gak ke mana-mana selama libur 14 hari? iya. Lagian gak punya doku buat ke mana-mana hehe.
Yakin semua berita tentang corona itu benar? tidak.
Jadi ada yang hoax? ada, banyak, tapi yang benar juga banyak.

Nonton youtube tentang serba-serbi virus itu? Iya nonton, beberapa chanel youtube.
Tapi tetap takut? iya.
Kenapa? karena saya bukan ahli virus.
Percaya Covid-19 telah membunuh ribuan orang di dunia? sangat percaya
Kenapa? karena saya masih percaya media mainstream tv, web, portal berita online profesional.

Yakin Allah itu ada? Yaqin!
Yakin kematian itu takdir Allah? iya, yakin.
Kenapa takut corona? mungkin saya ditakdirkan takut corona.
Kalau misalnya memang ditakdirkan mati karena corona? saya tidak tahu.
Maksudnya? ya saya tidak tahu. Saya tahunya ikhtiar menjaga sehat dan nyawa saya, itu kan wajib juga.

Besok gak Jumatan? belum tahu.
Kira-kira Jumatan atau salat dzuhur saja di rumah? kayaknya dzuhur di kantor
Kenapa? mungkin saya ditakdirkan memilih itu.
Apa karena ada imbauan MUI dan berita di Saudi salat jamaah dihentikan dulu? ya, itu juga iya.

Berarti iman gampang goyah oleh berita yah? iman dan keyakinan itu butuh proses.
Maksudnya? keimanan saya sekarang ini proses evolusi spiritual yang panjang sejak kecil.

Apa bisa dikatakan iman itu melemah? dari prespektif sempit mungkin iya
Maksudnya? sudahlah soal iman itu urusan saya.

Pernah dengar, corona itu propaganda Israel dan Amerika? iya, pernah.
Percaya? tidak.
Kenapa? karena saya tidak tahu.
Percaya itu semacam senjata biologis dari Israel dan Amerika? embuh, saya tidak tahu.
Ada orang-orang atau kelompok tertentu yang gunakan corona untuk berpolitik? iya, ada.
Contohnya? lihat, dengar orang ngomong di tivi, aroma itu tercium kok.

Pemerintah sudah bagus tangani corona? ada bagusnya ada enggaknya.
Bagian mana sisi enggaknya? lambat deteksi dini, dan justru timbulkan kepanikan.
Menurutmu pemerintah sudah harus keluarkan kebijakan lockdown? saya bingung.
Kenapa? kalau negeri ini di-lockdown, takutya malah chaos.
Loh, kenapa? khawatir malah perang sendiri. Bukan perang lawan corona.
Kok begitu? masih lebih banyak orang miskin daripada orang kaya.

Coba sederhananya bagaimana? ya bisa picu krisis.
Maksudnya? efeknya negeri dikunci itu tidak sederhana.
Iya, terus? lah, kebijakan libur 14 hari saja sudah banyak yang menjerit.
Contohnya? tukang ojek sepi penumpang, sektor wisata lumpuh, pasar mulai sepi. Mall kini lengang.

Jadi lebih penting ekonomi yah? owh nggak juga. Tetap lebih penting nyawa lah. Tapi…
Tapi apa? saya bingung. Italy negara sebesar itu sudah lockdown. Tapi Indonesia…
Jadi pendapat jelasmu soal lockdown? jelasnya saya bingung haha….
Menurutmu banyak yang lebay hadapi corona? iya sih
Kenapa yah? ya mungkin karena tidak tahu apa itu corona.
Apa sebaliknya? bisa jadi.

Kok plin plan? iya. Karena memang lebay dan tidak, itu tergantung tafsir masing-masing tentang corona.
Maksudnya? ya asupan informasi dan bacaan orang tentang corona berbeda-beda.
Maksudnya? kok maksudnya lagi, ya bacaan orang itu mempengaruhi pola pikir.
Terus? ya itu yang bikin oarang kemudian berbeda sikap.
Terus, kenapa kamu takut? mungkin karena saya hanya sedikit tahu corona.

Kalau kamu misalnya dokter, takut nggak? banyak loh dokter yang sudah terpapar corona.
Tahu dari mana? ituh, ada dokter yang kirim surat terbuka ke Presiden Jokowi.
Oh ya? iya, belum tahu yah?
Ah! itu dokter politikus mungkin? saya tidak tahu.

Yakin umat manusia mampu hadapi corona? yakin bisa!
Kenapa? bukan kali ini saja dunia dilanda pageblug. Sudah dari dulu kala ada.

Udah ngopi? inih, mau. Situ mau kubikinin?

Amin Nurrokhman
Pemimpin Redaksi

Open post

Simulakra

Manusia dan pengalaman sudah kehabisan eranya. Penggantinya, disebut Jean Baudrillard sebagai dunia simulakra. Dunia dipenuhi citra dan penanda atas peristiwa. Pengalaman, bukan satu-satunya hal nyata yang menentukan tindakan manusia.

Simulakra oleh Baudrillard ada di sekitar kita. Beberapa dipertontonkan secara bebas oleh kotak ajaib televisi. Apalagi kini, hampir semua manusia mengenggam kotak ajaib lebih kecil bernama gatget. Sisanya bertebaran bebas di sepanjang jalan.

Pilkada Pemalang memang masih lama, masih dalam hitungan bulan. Tapi lihat saja, di pinggir jalan mualai ada baliho bakal calon bupati.

Citra dan makna paling banyak dimainkan si pendulang suara dalam helatan pemilihan. Ada yang bilang, selebar-lebarnya baliho ia hanya produk polesan demi pencitraan.

Bupati dalam trias politica, dimaknai sebagai penghamba rakyat memimpin eksekutif. Dia adalah pembantu rakyat, bukan majikan rakyat. Karena rakyat tak tinggal di rumah dinas dan pendapa. Artinya jelas, bupati bukan soal siapa-dia, tapi untuk-siapa-dia.

Semesta postmodern, menyulap peristiwa menjadi simulacrum. Kenyataan diterima sebagai simulasi. Melalui iklan calon bupati, masyarakat hanya mengenal siapa-dia. Bukan untuk-siapa-dia. Sebab masyarakat hanya disuguhi raut senyum polesan si calon pembantu rakyat.

Masyarakat, dipaksa untuk mengkonsumsi citra mulus dan senyum teduh calon pemimpin. Sementara pengalaman-pengalaman masyarakat tentang malasnya para pembantu bupati misalnya, pemborosan anggaran dan lainnya, dihapus melalui senyuman dalam iklan.

Permainan citra dan makna, membuat calon harus pintar-pintar mencari celah menyisipkan foto diri editan. Beberapa yang jengah dan malas memaku di pohon, melirik mobil dan angkutan. Tring! Jadilah iklan bebas berkeliaran di ruas jalan, membawa citra dan makna si calon.

Ya, banyak calon bupati siap saji. Belum ada pengalaman. Apalagi pengabdian. Memang ada regulasi pemasangan alat peraga kampanye dan promosi. Ia jauh tertinggal kreativitas calon mencari celah untuk pencitraan. Jangan heran, jika keputusan memilih bukan soal kualitas, tapi kuantitas seberapa sering wajahnya terlintas di ruas jalan.

Simulakra, hiperealitas dan pembodohan ada dalam satu garis lurus. Sebab kepercayaan bukan berdasar kenyataan pengalaman. Sebab manusia sudah memilih segalanya jadi instan. hahaha….jangan serius-serius……mari kita ngopi.

Amin Roman
Pemimpin Redaksi

Open post

Kambing Hitam

‘Kado’ tahun baru 2020 berupa banjir dahsyat Jakarta, bukan penanda bahwa alam tengah mengancam. Bahwa alam sedang dirundung duka apalagi menabur kebencian.

Bencana alam, bukan hanya karena ketidakmampuan manusia berdamai dengan bumi dengan eksploitasi. Apalagi pertanda hal mistis atau bahkan yang kini sering tren, hal politis. Bencana alam, dibutuhkan semesta bumi sebagai proses penyesuaian diri.

Ada atau tidak manusia di bumi, alam akan tetap menyesuaikan diri. Lempengan-lempengan di bawah permukaan laut akan berbenturan secara periodik hingga muncul gempa bumi. Sama halnya dengan gunung api yang secara alamiah akan menyemburkan lava.

Ambil contoh Gunung Sinabung. Dia digolongkan dalam gunung api tidur atau tipe B. Sinabung, bukan prioritas utama manusia untuk diamati sebab tipe A yang kerap jadi pusat perhatian.

Hiposentrum Sinabung tak terdeteksi sebelum ia meletus. Seismometer yang sudah dipasang memata-matai Sinabung lengah membaca tanda-tanda pusat gempa di bawah permukaan bumi Sinabung.

Akibatnya, tanda kebutuhan Sinabung menyesuaikan diri luput oleh manusia. Puluhan meregang nyawa. Tapi manusia telanjur menjadikan alam sebagai objek penaklukan. Hingga hal-hal mistis bahkan politis, kadang dikaitkan dengan efek alam yang tengah menyesuaikan.

Indonesia sudah jelas berada pada lempengan-lempengan dan ratusan gunung api yang tersebar tak merata. Di pelajaran geografi, kita sudah diwajibkan hafal.
Tapi hafalan itu menguap dengan hal-hal tak masuk akal yang ramai digunjingkan. Sebab tuhan sedang mengadzab manusia karena pesta-pora tahun baru, misalnya.

Manusia, gagap menghadapi bencana. Kealpaan sebagai bagian dari alam ditambah kesiapan pemerintah menyiapkan relokasi dan bantuan bencana tak pernah maksimal.
Banjir Jakarta tahun ini, sudah diramalkan bakal terjadi. Karena musim kemarau yang panjang selama 2019, akan memicu curah hujan sangat tinggi di Desember-Januari. Jadi, itu banjir, hampir pasti akan terjadi.

Bukannya Pemprov DKI Jakarta sama sekali tidak siap hadapi bencana. Tetapi bahwa pemprov di bawah pimpinan gubernur, kurang siap mengantisipasi banjir, itu iya. Terbukti korban jiwa terus bertambah dan genangan air yang tak kunjung surut.

Anenhnya, perdebatan banjir Jakarta tidak terfokus pada penyebab banjir. Atau setidaknya kebijakan gubernur, sekali lagi kebijakan atau keputusan gubernur. Perdebatan terfokus pada orang yang menjabat gubernur. Tentu saja itu juga hak masyarakat menentukan pilihan perdebatan.

Sejenak mengingat, sekira 2014 silam, bencana longsor di Watukumpul, Pemalang yang mengubur ratusan rumah. Pada konteks realitas, adalah bukti ketidakmampuan belajar. Karena wilayah berbukit-bukit di pegunungan terpencil Kabupaten Pemalang itu menjadi langganan bencana setiap musim hujan datang. Upaya memang telah dilakukan, tetapi menjadi siaga untuk secepatnya merelokasi warga di tempat yang bahkan kurang tersentuh media massa kala itu, tidak sigap dilakukan.

Ribuang pengungsi, waktu itu, menghuni tenda darurat, gedung sekolah dan balai desa. Puluhan anak sekolah menyabung nyawa setiap pagi dan sore, menyeberangi sungai berarus deras. Karena sejumlah jembatan vital di Watukumpul, patah tergerus banjir.

Alam (agaknya) bukan sedang mengancam, justru manusia lah yang kian cerdas mencari kambing hitam.

Amin Roman
Pemimpin Redaksi puskapik.com

Scroll to top