Sejak Pandemi Corona, Perajin Telur Asin Brebes Merana

FOTO/PUSKAPIK/ISTIMEWA

PUSKAPIK.COM, Brebes – Sejak corona (Covid-19) dinyatakan sebagai pandemi, para perajin telur asin di Brebes tiarap’. Omzet para perajin oleh- oleh khas Brebes itu terjun bebas da turun sampai 90 persen.

Bagi perajin telur asin, mendekati Lebaran adalah momen untuk menambah produksi hingga berlipat lipat. Mereka sengaja menggandakan produksi untuk memenuhi permintaan pasar yang meningkat saat arus mudik dan balik lebaran.

Namun harapan meraup laba banyak saat moment Lebaran ini harus kandas. Pandemi Covid-19 telah menghempaskan harapan pedagang ini.

Alih-alih mengalami peningkatan jumlah pembeli, yang terjadi justru sebaliknya.
Pembeli telur asin menurun tajam karena adanya PSBB dan larangan mudik.

Dinah (52) pemilik telur asin HTM di Desa Pesantunan mengaku, sejak terjadi pandemi, dirinya sudah tidak memproduksi telur asin dalam jumlah banyak. Telur asin yang diproduksi hanya untuk menyediakan kebutuhan warga sekitar.

“Kalau saat saat seperti ini, biasanya kami mengasinkan 70 sampai 80 telur asin untuk memenuhi permintaan pelanggan dan pemudik. Sekarang hanya membuat kurang dari 10 ribu butir. Lebaran kali ini beda jauh. Sepi tidak ada pembeli karena memang ada larangan mudik,” ujar Dinah ditemui di kiosnya, Senin 18 Mei 2020 siang.

Didit (46) perajin telur asij Tip Top di Kelurahan Gandasuli mengungkapkan hal yang sama. Pandemi ini telah menurunkan jumlah penjualan hingga 90 persen.

“Adanya pembatasan (PSBB), mudik dilarang, jadinya omzet turun. Kalau dihitung hitung sampai 90 persen dari normal,” ungkap Didit.

Dibeberkan, dalam sehari di luar suasana mudik, Didit mampu menjual 4000 butir. Sedangkan dalam suasana mudik dan balik lebaran, bisa tembus 15 ribu butir perhari.

Suasana pandemi, sambung Didit, menyebabkan turunnya omzet. Pada awal puasa, dia menambahkan, memproduksi 4000 butir telur asin untuk memenuhi kebutuhan warga. Karena jumlah pembeli turun, telur bikinannya ini tidak habis hingga munggu ke dua puasa.

“Kami pernah buat 4000 butir. Dari awal puasa sampai minggu ke dua tidak habis. Terpaksa telur diobral Rp.1500 per butir dari harga normal Rp.3300,” ungkapnya.

Nani Nuryati, Kabid UMKM Dinas Koperasi Usaha Menengah dan Perdagangan (Dinkumdag) Brebes, mengatakan, perajin telur asin adalah salah satu sektor usaha yang paling terdampak pandemi ini. Kebijakan PSBB dan larangan mudik, telah menyebabkan jumlah pembeli turun.

Dampak lain yang ditimbulkan adalah banyak perajin yang merumahkan pekerjanya. Seperti biasa, kata Nani, setiap menjelang hari raya banyak yang mencari tenaga kerja untuk membuat telur asin, namun sekarang mereka dirumahkan.

Kontributor : Pedro
Editor : Amin Nurrokhman

Tinggalkan Balasan