Elit vs Netizen

0
HERU KUNDHIMIARSO

DEMOKRASI kita hari ini masih saja seolah-olah. Faktanya, politik makin jatuh pada kubangan materialistik dengan pragmatisme yang akut.

Ilmu yang derajatnya tinggi ternyata terkikis oleh segepok uang. Akibatnya, untuk berpolitik dan terlibat di dalam jabatannya lebih sering yang dilihat adalah isi dompet bukan isi kepala. Mahar yang semestinya berbentuk profesionalitas ‘dipaksa’ berubah persepsi menjadi pundi-pundi uang. Karena memang elit politik tak butuh popularitas apalagi kualitas, yang penting bagi mereka para elit politik, ya isi tas.

Pilkada semestinya bukan sebatas hamparan senyum. Apalagi pura-pura senyum, yang menempel di pohon, dinding, tiang listrik, atau linimasa media sosial. Juga bukan ajang pamer gelar dan titel di spanduk, poster dan baliho berbagai ukuran.

Pilkada harusnya jadi momentum masyarakat untuk memilih calon pemimpin terbaik. Calon-calon yang semestinya telah memupuk kepercayaan dari masyarakat dalam rentang waktu yang panjang. Perjuangan mereka telah dirasakan masyarakat jauh-jauh hari, kiprah dan sepak terjangnya jelas. Bukan calon yang cuma bermodalkan kedekatan dengan para elit partai. Parahnya lagi, yang ujug-ujug nongol cuma bermodalkan isi tas.

Nah, media sosial (medsos) membuka peluang bagi kita untuk memperkuat demokrasi. Tapi sekaligus punya kesempatan merusaknya. Di era digital, besarnya dukungan publik bisa direkayasa dengan ujung jari. Berita palsu, caci-maki atau cerita baik sang kandidat yang dilebih-lebihkan, bisa gampangnya didesain.

Di era medsos kayak sekarang ini, yang terjadi seringnya vox populi vox dei bukan lagi hanya bisa dimaknai suara rakyat, suara Tuhan, melainkan suara rakyat, suara opinion leader. Parahnya lagi, suara rakyat, suara buzzer.

Jadi dalam gegap-gempita kontestasi pesta demokrasi kali ini, medsos bisa jadi adalah parpol partikelir. Sebuah kekuatan di luar arena tetapi berkekuatan maha dahsyat. Bisa mengacaukan strategi skaligus membumihanguskan medan laga Pilkada.

Jika media mainstream saja sudah dicurigai bukan saja sebagai pengabar fakta, tapi juga ‘pengabur’ fakta, medsos yang payung yuridisnya masih abu-abu, bisa berekspresi sebebas-bebasnya. Bukan saja mengaburkan fakta, tapi juga memutarbalikkan, menjungkirbalikkan fakta.

Tetapi, mari berpikir positip saja preeen…bahwa netizen dan warganet Pemalang masih menomorsatukan kemuliaan hidup, kejujuran dan integritas. Sehingga menjadi faksi dan menjadi penentu fatsun politik, agar Pilkada menjadi ajang pesta demokrasi yang bermartabat.

Sangat menarik, jika warganet di Pemalang tak cuma jadi penonton, tetapi menjadi pengawal Pilkada ‘bayangan’ yang berhajat besar untuk mengawal Pilkada agar on the track. Posting, komen dan apapun dari netizen adalah semangat agar Pilkada berlangsung seru, tapi jujur dan bersih tanpa pelanggaran. Tapi dengan catatan : tanpa caci maki, tanpa hinaan, tanpa hoax (berita/infomasi bohong), dosa loh. heee…heee…

Alangkah bijak, jika netizen juga mulai memahami regulasi Pilkada mulai dari Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU), UU Pilkada No 10 Tahun 2006, peraturan dan keputusan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Sehingga kritik dan apapun menyangkut hajat Pilkada tetap dalam koridor yang benar. Eh!, tapi kalau netizen nakal dikit-dikit itu seh wajiiiib, hahaha…..

Dengan begitu, maka Pilkada yang pakai duit rakyat bermiliar-miliar ini bukan dimonopoli elit partai. Tetapi milik kita semua. Karena netizen akan mengawal tahapan demi tahapan Pilkada. Apa boleh berpihak? Ya tentu saja boleh. Silakan saja, bebas bro. Wong sesungguhnya yang bilang netral itu juga berpihak. Berpihak kepada yang netral, hahaha.

Wahai netizen… mari kawal pesta rakyat ini agar sesuai regulasi. Hanya dari proses Pilkada yang bersih, akan terpilih bupati yang baik. Bupati yang tidak mengkhianati netizen, hahaha… maksudnya tidak menjadi majikan rakyat. Tapi pelayan rakyat yang amanah. Karena tuan sesungguhnya adalah rakyat, dan siapapun bupati dan wakil bupati nya, mereka cuma pelayan.

Berdoa saja, semoga Tuhan selalu punya niat baik buat kita, buat Pemalang. Jika kelak dapat pemimpin yang baik, maka itu artinya Tuhan masih berbelas kasihan sama kita. Jika mendapatkan pemimpin yang buruk, ya itu artinya kita sedang ditegur agar bisa berbenah memperbaiki diri…..

Jangan terlalu serius, sruput dulu ngopi dulu……

Heru Kundhimiarso
Pemimpin Umum

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini