THR Biang Kerok Pertumbuhan Ekonomi Meroket
- calendar_month Kam, 20 Apr 2023


Pasar tradisional, pasar modern, ritel dan serupa dengan itu ramene ora umum. Berjubel customer memborong sesuatu yang ingin dibeli untuk menyambut Idul Fitri. Dan Online shop mengalami hal yang sama. Apa maknanya? artinya orang-orang pegang uang!
Lantas mengapa hampir semua orang punya uang? jawabannya simpel: gara-gara Tunjangan Hari Raya (THR) dan mekanisme berbagi dikalangan umat berlangsung massif dan berlipat ganda dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.
Pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta, BUMN dan BUMD menggelontorkan THR bagi seluruh karyawannya. Majikan-majikan empunya usaha pun sama, membagikan THR bagi ploretarnya.
Orang mampu menebar zakat dan sedekah kepada sesama yang kurang mampu, yang kurang mampu memiliki kerelaan sejenis, berbagi rejeki kepada yang “sangat” tidak mampu.
Semua strata ekonomi berbagi rejeki kepada strata dibawahnya, demikian seterusnya. Sehingga idul Fitri adalah momen ketika perputaran uang melonjak tajam pada saat yang hampir bersamaan. Sungguh ini hal yang menarik untuk dikaji.
Peristiwa jelang Idul Fitri ketika beratus juta pekerja formal dan informal memperoleh pendapatan tambahan yang disebut THR itu, kemudian pada sisi lain praktik sedekah antar sesama dikencangkan pada saat bersamaan, Al hasil hampir semua orang memiliki uang.
Nah tatkala mayoritas orang Indonesia punya uang lebih dari biasanya, berdampak pada peningkatan konsumsi dan belanja masyarakat. Sehingga saat lebaran tiba ada istilah “dodol apa bae dong bada payu kabeh”.
Biang kerok dari semua ini adalah THR, tunjangan hari raya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, setidaknya konsumsi kita semua (rakyat). Maka semua diuntungkan, baik yang mengeluarkan THR dan yang menerima.
- Penulis: puskapik