Siklus Politik Lima Tahunan Segera Datang, Pesta Demokrasi atau Kepentingan Oligarki?
- calendar_month Jum, 7 Okt 2022

Alfatah Harimba S.IP

MASYARAKAT terpaksa melihat hiruk pikuk partai politik (Parpol) yang sedang mempersiapkan jagoannya di Pemilu 2024. Baik parpol maupun elite nasional telah menyiapkan koalisi baru. Ada yang sudah mendeklarasikan bakal calon Presiden, ada pula yang masih menimang-nimang. Hal itu karena terbentur aturan formal ‘Presidential Threshold’ atau ambang batas 20 %. Selain itu, kekuatan aliansi bisnis dan politik telah menutup kesempatan calon presiden untuk maju tanpa dukungan mereka. Politik Indonesia memang telah berubah setelah Orde Baru tumbang, namun konfigurasi aliansi kekuasaannya tetap sama.
Kondisi yang terjadi saat ini kelas borjuasi membangun relasi bisnisnya dengan beberapa elit partai politik. Beberapa partai politik yang memiliki hubungan dengan kelas borjuasi seperti halnya Partai Golongan Karya (Golkar) harus ditempatkan di daftar pertama. Partai bentukan Orba ini tidak hanya terus menjadi pemain penting dalam konstelasi politik hari ini, tapi juga telah melahirkan dan membesarkan klik-klik borjuasi yang membentuk partai-partai baru. Sebut saja Prabowo Subianto yang mendirikan Partai Gerindra; Surya Paloh yang mendirikan Partai Nasional Demokrat (Nasdem).
Aliansi bisnis dan partai politik semakin menguat, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa relasi kapital untuk mendukung salah satu pasangan calon kedepan nyata terjadi. Kepentingan kelas proletar atau rakyat kecil akan semakin tersingkirkan dan hanya menjadi “sapi perah” bagi para oligarki dan elit partai politik.
Politik pasca-Orde Baru telah membuka kotak pandora yang selama puluhan tahun dikunci rapat oleh rezim Soeharto, yakni terdistribusinya kekuasaan di berbagai ruang politik, tak terkecuali di tubuh partai politik. Perkembangan partai politik selama periode ini adalah hasil inkubasi aliansi bisnis dan politik, yang tak pelak menjadi bagian dari proses akumulasi kekuasaan-kapital.
- Penulis: puskapik