BANGUN, MENGGELIAT, LARI

Foto : Illustrasi / Istimewa

Selamat Pagi Kesiangan,
Bangun tidur ku terus ngopi….
Ya, mari bicara soal tidur dan bangun.

Begawan jurnalistik repubik ini, Goenawan Mohamad (GM) bilang: tidur adalah cara menikmati libur yang gratis. Sudah sekian lama, www.puskapik.com terlelap dalam tidur panjang. Sepertinya Puskapik yang telanjur lahir dan sempat menghiasi jagad maya dan media daring, memilih berlibur gratis: tidur.

Tetapi GM juga mengatakan, definisi kesepian yang sebenarnya, adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial. Riuh, bising dan gegap gempita dunia maya, mengganggu tidur Puskapik. Suara-suara itu begitu kuat. Sangat berisik. Maka bocah ingusan di dunia maya bernama www.puskapik.com itu pun melek matanya. Ia terbangun. Dan kini mulai menggeliat.

Selain karena terganggu tsunami informasi media sosial yang berisik dan karut-marut, Puskapik bisa jadi ditakdirkan menjadi penyintas. Sang pamomong Puskapik akhirnya membangunkan Puskapik dari tidur panjang. Kepada semesta maya, ia menegaskan, bahwa puskapik.com belum ‘menyerah’ dan memilih terus belajar.

Adalah Heru Kundhimiarso, sang pemomong puskapik.com, agakya memang keras kepala. Ia seperti memaksa si puskapik.com menjadi bocah ajaib. Kenapa ajaib? Karena mungkin menurut segelintir orang, musim sedang pancaroba, kacau. Tidak berpihak untuk bangun dan menggeliatnya puskapik.com.

Di tengah kenyataan puluhan media cetak dan daring yang satu-satu bertumbangan, puskapik ‘nekat’ bangun. Maka bocah ajaib itu sudah siap ‘dikeroyok’ dan dinyinyiri netizen. Ya, namanya bocah, ia tak bakal peduli. Ia akan menjerit dan sesekali ketawa-ketiwi tak kenal kompromi pada apapun kondisi.

Sang pamomong bocah ajaib memohon kepada semesta dan kepada sumber dari segala sumber, agar puskapik.com tumbuh sehat. Karena tantangan hidup akan semakin dahsyat. Mendapatkan asupan gizi informasi yang seimbang. Sehingga dijauhkan dari segala macam penyakit.

Ia akan mulai merangkak, berjalan, dan berlari. Pasti juga akan menjerit, meronta, berontak, protes dan tentu saja nyaring dan riang bernyanyi. Sang pamomong optimistis, bocah ajaib itu akan tumbuh pesat menjadi manusia kuat, ramah, tetapi tegas dan responsif. Karena di situasi yang silang-sengkarut seperti ini, bukan spesies yang kuat dan cerdas yang mampu bertahan hidup lama. Tetapi justru spesies yang paling responsif, yang akan mampu bertahan dengan segala perubahan cuaca, iklim dan segala kondisi dan situasi.

Sejak internet lahir, disusul kelahiran gadget, android dan pengekornya, kerja dan wajah jurnalistik berubah. ‘Pertempuran’ media bukan semata pada soal strategi penyajian, marketing, atau framing dan bidikan isu. Tetapi tuntutan kecepatan informasi. Pers bukan lagi memberitakan apa yang sudah terjadi. Tetapi memberitakan apa yang ‘sedang’ terjadi. Tidak heran kalau media cetak khususnya koran bertumbangan. Meskipun ada yang masih bertahan, tetapi hidup dengan kondisi yang sangat susah payah.

Tapi jangan terlalu serius gaesss, mari sruput kopi dulu. Karena selalu ada tanggal-tanggal merah di kalender kita. Hukum sunatullah dan hukum keteraturan semesta masih akan berlaku sampai alam ini berakhir. Seperti hati yang sering bolak-balik, fashion dan gaya hidup juga sering berbalik-balik. Booming celana cutbray di tahun 70-an bisa saja booming di tahun-tahun mendatang, menggantikan tren celana cingkrang (haha bisa saja kan?).

Tidak menutup kemungkinan juga tren medsos akan mengalami titik jenuh. Publik akan kembali ke media mainstream. Kalaupun tidak, pakem kinerja jurnalistik dengan piranti UU Pokok Pers Nomor 4o Tahun 1999, mustahil dihapus.

Maka pengasuh Puskapik tak akan gegabah mengesampingkan regulasi dan aturan main media. Sekuat tenaga akan membimbing bocah ajaib itu dengan selendang profesionalisme. Agar teriak, tangis, jerit, tawa dan nyanyian puskapik tetap proporsional, tidak liar dan menyesatkan publik.

Amin Roman

Pemimpin Redaksi