Miris, Ratusan Warga Desa Pesarean Tegal Terpapar Limbah B3

Tasripin, perangkat Desa Pesarean, menunjukan lokasi limbah B3 di Desa Pesarean, Kabupaten Tegal, Selasa siang, 21 September 2021. FOTO/PUSKAPIK/SAKTI RAMADHAN
Iklan

PUSKAPIK.COM, Slawi – Ratusan warga Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, terpapar logam berat akibat pembuangan limbah bahan beracun berbahaya atau B3 secara sembarangan di tengah-tengah permukiman warga yang sudah bertahun-tahun. Selain infeksi saluran pernapasan akut (ispa), sejumlah warga juga mengalami down syndrome akibat pencemaran limbah.

Tasripin, salah satu perangkat desa Pesarean, mengatakan, ada sedikitnya 10 warga yang mengalami down syndrome dalam satu RW. Sedangkan yang menderita ispa, sakit paru-paru dan sesak nafas jumlahnya tak terhitung.

“Untuk down syndrome karena ini wilayah saya sendiri jumlahnya ada 10 di RW 8. Mereka terkena sejak balita sampai sekarang sudah dewasa,” kata Tasripin saat ditemui di lokasi pembuangan limbah, Selasa siang, 21 September 2021.

Menurut Tasripin, rata-rata yang terkena down syndrome adalah anak-anak dari para pengecor logam. Sehingga mereka terkena langsung limbah yang ada disekitar rumahnya.

Tasripin mengungkapkan, penelitian yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa bersama Dinas Kesehatan di sejumlah tempat pengecoran logam, hasilnya cukup mengejutkan.

“Dari jumlah pekerja yang 50 orang, ternyata hanya dua atau satu orang yang dikatakan sehat. Jadi rata-rata mayoritas pekerja atau lingkungan di wilayah limbah ini sudah mengandung timbal,” ujar Tasripin.

Tasripin menyebut, pihak pemda terkesan kurang memberikan perhatian kepada warga yang terpapar limbah logam berat. Padahal, banyak warga yang terpapar tergolong warga kurang mampu.

“Karena kurang mendapat penangan akhirnya ya tidak ada perubahan, warga juga tidak mampu berobat,” kata Tasripin.

Fatikhin dan Tarokhi, merupakan kakak adik warga desa Pesarean, yang terpapar logam berat. Sang kakak, Fatikhin, mengalami gangguan syaraf pada jari-jari kedua tangannya, sehingga sulit digerakan. Sedangkan sang adik, menderita tuna grahita.

“Saya dulu bekerja pada pengecoran logam sejak umur belasan. Awalnya sehat-sehat saja, tapi setelah dewasa mulai sering sesak nafas dan jari tangan kaku. Kalau adik saya dari kecil sudah begitu,” ujar Fatikhin.

Kontributor: Sakti Ramadhan
Editor: Faisal M

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini