Kisah Pilu 2 Nenek di Pesisir Ulujami Pemalang, Gubug Reotnya Terendam Rob Setiap Malam

0
Mur Wiri saat ditemui di gubugnya di Desa Tasikrejo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jumat, 23 April 2021. FOTO/PUSKAPIK/ERIKO GARDA DEMOKRASI

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Kisah pilu dialami dua nenek di Desa Tasikrejo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Keduanya tinggal di gubuk pesisir pantai yang terendam air laut tiap malam. Yang lebih menyedihkan sekarang keduanya tak mendapat bantuan dari pemerintah lagi.

Dua nenek itu adalah Mur Wiri (62) dan Danusri (63), yang tinggal di pesisir pantai Desa Tasikrejo, di atas tanah pinjaman dari petani bunga melati. Untuk menuju rumah keduanya, harus menempuh jalan pasir pantai yang perlu kehati-hatian agar sampai di lokasi.

Mur Wiri merupakan seorang janda tua tanpa anak, yang sudah menetap di lokasi tersebut sejak 1999. Ia tinggal di sebuah gubuk bambu berukuran 2 x 4 meter.

Tiap malam ketika air laut pasang (rob), gubuk reotnya itu terendam. Apalagi, tidak ada penerangan di gubuknya itu, Ia hanya menunggu pemberian lampu solar dari tetangganya, Danusri.

“Saya enggak punya anak, sudah enggak punya suami. Tempat tinggalnya reot gini, banjir terus, kalau ada angin kencang saya cuma bisa nangis, mau minta tolong sama siapa?,” tutur Mur Wiri, Jumat, 23 April 2021.

Gubug Mur Wiri di Desa Tasikrejo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jumat, 23 April 2021. FOTO/PUSKAPIK/ERIKO GARDA DEMOKRASI

Tak hanya itu, atap gubuknya itu juga bocor saat dilanda hujan. Kencangnya angin pantai, dan mandi dengan air asin sudah menjadi keseharian yang dirasakan Mur Wiri.

Kondisi fisiknya juga memprihatinkan, matanya sudah rabun, dan ada benjolan di lehernya. “Kesehariannya enggak kerja, paling kalau ada orang yang ngasih uang, orang yang kasihan. Ngasih Rp5.000, ngasih Rp10.000,” kata Mur Wiri.

Dengan kondisi yang memilukan itu, Mur Wiri mengaku, dulunya pernah mendapat bantuan beras dari pemerintah, namun sekarang tak pernah Ia dapatkan lagi.

Kemudian, juga pernah mendapat bantuan dari Pemerintah desa sebesar Rp600.000 selama tiga bulan, namun bantuan semacam itu juga tak i dapatkan lagi.

Hal yang sama juga dialami, Danusri (63), yang tinggal berdekatan dengan Mur Wiri. Danusri tinggal bersama suaminya, mengandalkan penghasilan mencari ikan dengan memasang jaring di pinggiran laut.

“Ikannya dibagi dua, separoh untuk lauk, separoh dijual untuk beli beras,” tutur Danusri.

Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Tasikrejo, Sopiyudin, membenarkan ada penduduk ber-KTP Desa Tasikrejo yang tinggal di gubuk pesisir pantai. Namun atas nama Mur Wiri merupakan pindahan dari Karanganyar, Pekalongan.

Saat ini, keduanya memang belum pernah mendapatkan bantuan BPNT ataupun PKH. “Kita sudah mengajukan, namun penentu kan bukan ada di desa. Apalagi atas nama Mur Wiri KTP-nya belum elektronik,” Kata Sopiyudin.

Ia menambahkan, saat ada bantuan listrik dari PT PLN mereka diajukan sebagai penerima karena waktu itu Desa Tasikrejo mendapat kuota sebanyak 10 buah box listrik pada 2020. Salah satunya gubuk milik Danusri. Namun, bantuan itu dibatalkan oleh vendor PLN Jawa Tengah, dengan alasan jarak untuk menarik kabel sangat jauh.

Penulis: Eriko Garda Demokrasi
Editor: Faisal M

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini