Bawaslu Pemalang: Awas Klaster Pilkada, Jangan Euforia Kemenangan Berlebihan

0
Sudadi, Anggota/Kordiv Hukum, Data dan Informasi, Bawaslu Pemalang, dalam konferensi pers di ruang meeting kantor Bawaslu Pemalang, Senin 30 November 2020.FOTO/PUSKAPIK/ERIKO GARDA DEMOKRASI

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Setelah penetapan hasil rekapitulasi Pilkada Pemalang tingkat Kabupaten, Selasa 15 Desember 2020 lalu, Bawaslu mengimbau agar tidak ada euforia berlebihan dari pasangan calon Agung-Mansur, yang menang dalam Pilkada 2020.

Itu disampaikan Sudadi, Anggota/Kordiv Hukum, Data dan Informasi, Bawaslu Pemalang. Hari ini, Jumat 18 Desember 2020, hari terakhir kesempatan pasangan calon yang kalah menggugat ke MK.

Menurut Sudadi, dalam masa gugatan ini, tak ada kerawanan pelanggaran. Tapi, Bawaslu tetap melakukan pengawasan. Sembari menunggu MK mengeluarkan Buku Registrasi Perkara Konstitusi (BRPK).

“Pengawasan tetap, kerawanan itu ya barangkali euforia yang berlebihan, menimbulkan kerumunan, itu kan pelanggaran Covid juga,” tutur Sudadi, Jumat 18 Desember 2020.

Namun berbeda dengan saat masa kampanye, jika pasangan calon pemenang menggelar acara yang menimbulkan kerumunan, Bawaslu tidak bisa membubarkan.

“Berbeda, karena kampanye dengan ini kan beda. Kalau kampanye memang aturannya seperti itu, 1 jam ada peringatan (tertulis, tidak digubris). Kami hanya upaya pencegahan, menghimbau agar tidak terjadi kerumunan,” kata Sudadi.

Hal senada juga disampaikan Sudadi, saat ditemui di kantor, Kamis 17 Desember 2020, kemarin.

Seperti diketahui, hasil rekapitulasi suara Pilkada Pemalang tingkat Kabupaten, Selasa 15 Desember 2020. Dimenangkan pasangan calon nomor urut 02, dari koalisi PPP-Gerindra, Mukti Agung Wibowo-Mansur Hidayat, dengan perolehan 338.905 suara.

Bawaslu berharap, tidak ada klaster baru penyebaran Covid-19 pasca Pilkada Pemalang 2020. Karena, hasil pengawasan Bawaslu dalam pelaksanaan pemungutan suara, Rabu 9 Desember 2020 lalu, protokol kesehatan pencegahan Covid-19 sudah diterapkan dengan baik.

Penulis : Eriko Garda Demokrasi
Editor: Amin Nurrokhman

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini