BPBD Pemalang: Awas! Watukumpul dan Pulosari Rawan Longsor

0
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemalang, Bambang Ali Nuryanto.FOTO/PUSKAPIK/ERIKO GARDA DEMOKRASI

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Selain banjir, bencana alam yang kerap terjadi saat musim penghujan adalah tanah longsor. Di Kabupaten Pemalang, wilayah yang dikategorikan paling rawan longsor di antaranya Kecamatan Watukumpul dan Pulosari.

Itu dikatakan Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemalang, Bambang Ali Nuryanto.

“Watukumpul, sebagian Belik, dan di Pulosari ada. Beberapa wilyah di Moga juga sebagian kecil, kemudian di Bodeh juga ada, tapi itu kecil,” kata Bambang, Sabtu 31 Oktober 2020.

Bambang mengungkapkan, Kecamatan Watukumpul paling rawan longsor, karena bentuk permukaan bumi (topografi) wilayah tersebut merupakan daerah perbukitan. Ditambah, kini perbukitan tersebut mulai gundul, sehingga manakala terjadi hujan besar bisa menyebabkan longsor dan menimpa bangunan dibawahnya.

“Antisipasi tanah longsor, kami sudah memasang sistem peringatan dini (early warning system/EWS), di mana kalau terjadi gerakan tanah, alat tersebut secara otomatis memberikan sinyal atau peringatan, berbunyi sirine,” ungkap Bambang.

Dituturkan Bambang, saat ini BPBD Pemalang baru memasang EWS di 5 titik sekitar Kecamatan Watukumpul. Diantaranya Desa Bodas, Cibongas serta Telagasana. EWS itu dipasang di daerah yang benar-benar rawan bencana.

“Kami juga mengadakan pelatihan di Desa Bodas, pembentukan desa tangguh bencana (Destana), membentuk manusia yang tangguh, yang siap terhadap bencana,” tutur Bambang.

Selain itu, di daerah-daerah rawan bencana sudah terbentuk beberapa relawan, yang mana fungsinya apabila terjadi suatu bencana, mereka sudah terlatih untuk melakukan langkah-langkah responsif. Menurut Bambang, langkah pertama yang harus dilakukan ketika terjadi bencana adalah menyelamatkan warga yang rentan, seperti lansia,ibu hamil, serta anak-anak.

“Antisipasi yang dilakukan masyarakat terhadap bencana tanah longsor, harus segera membaca perubahan alam. Ketika hujan besar, terus terjadi pergerakan tanah, kemudian segera keluar, dan mengingatkan kepada semua masyarakat,” terang Bambang.

Kemudian masyarakat juga harus ramah terhadap alam dan lingkungan, seperti tidak melakukan penebangan pohon dengan semena-mena. Dikatakan Bambang, materi seperti ini juga disampaikan BPBD Pemalang kepada masyarakat dalam setiap sosialisasi di seluruh Kecamatan.

“Artinya kita harus menjaga lingkungan, karena kalau pohon ditebang habis, resapannya kurang, penahan tanahnya juga kurang, terjadi turun hujan dan tanah longsor. Tanah longsor membawa endapan membawa apapun disana, kemudian membendung sebuah sungai,jembatan, atau gorong-gorong, terjadilah meluap dan banjir.” pungkas Bambang.

Penulis : Eriko Garda Demokrasi
Editor : Amin Nurrokhman

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini