Kisah Kiai Achid, Sosok Ulama Dibalik Lahirnya Muhammadiyah di Pemalang
- calendar_month Rab, 25 Jun 2025


PUSKAPIK.COM, Pemalang – Hadirnya Muhammadiyah di Kabupaten Pemalang melewati sejarah panjang sejak masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Adalah Kiai Achid, sosok yang membesarkan organisasi Islam tersebut di Pemalang.
Putra Kiai Achid, KH. Ghozie Achid, menceritakan langsung sejarah berdirinya Muhammadiyah itu di acara diskusi sejarah oleh forum kajian Politics and Historical Discourse (PHD) di Sekretariat PHD, Banyumudal, Moga, Minggu (22/6/2025).
Mungkin banyak dari warga Kabupaten Pemalang yang belum tahu atau bahkan belum pernah mendengar nama Kiai Achid, seorang ulama sekaligus pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam kisah hidupnya, Achid kecil lahir di Dukuh Basuruan, Desa Kajen, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal pada tahun 1905. Ayahnya, KH. Mustahid, dan ibunya, Nyai Azkiyah, keduanya adalah guru ngaji di kampungnya.
Sejak kecil Achid digembleng ilmu agama oleh kedua orangtuanya. Tahun 1919, ia lalu dikirim ke Pondok Pesantren Tebuireng asuhan Hadratussyaikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari, ulama besar pendiri sekaligus Rais Akbar (pimpinan tertinggi pertama) Nahdlatul Ulama.
Saat usianya baru menginjak 18 tahun, Achid dinikahkan dengan Rodliyah, gadis asal Desa Banyumudal, Moga, Kabupaten Pemalang, yang merupakan anak dari kerabat ayahnya, tepatnya di tahun 1923.
Akad nikah Achid dan Rodliyah dilangsungkan di Tebuireng dan yang menikahkan Kiai Ma’shum Ali, menantu Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari.
Hingga pada tahun 1926, Achid bersama istrinya pulang ke Pemalang dan menetap di Dukuh Simadu Desa Banyumudal Kecamatan Moga. Sejak itulah Achid mulai berdakwah di Moga. Ia “mulang ngaji” di Mushola yang dibangun oleh mertuanya.
- Penulis: puskapik