FOTO/PUSKAPIK/ISTIMEWA

PURWOKERTO (PUSKAPIK)-Memasuki awal semester genap 2019-2020, Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) menggelar desiminasi materi pendidikan kewarganegaraan (PKn). Ruang diseminasi itu dikemas melalui focus group discussion (FGD) bagi dosen di ruang rapat LP3M, Kamis (6/2/2020).

Informasi yang dihimpun Puskapik, Jumat (7/2/2020) menyebut, FGD dilakukan sebagai ruang diseminasi bagi dosen pengampu mata kuliah PKn. Sebagai forum untuk menyemaikan materi perkuliahan hasil training of trainer (ToT) dosen PKn di Fakultas Filsafat UGM beberapa waktu yang lalu.

Selain itu, untuk menyamakan persepsi antar dosen dalam implementasi pembelajaran. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan petunjuk kurikulum dan tidak melenceng dari buku ajar terbitan Kemenristekdikti tahun lalu.

Koordinator Pusat Pengembangan Karakter LP3M, Dr. Ir. Rosidi, MP dalam memimpin forum, menyampaikan forum ini telah menyepakati jumlah materi, pengembangan metode dengan student center learning (SCL), pengembangan bahan ajar dan revisi buku ajar.

“Buku PKn yang digunakan hendaknya bersumber dari terbitan Dikti. Buku itu menjadi acuan utama yang didukung sumber lain yang relevan,” terangnya.

Disampaikan, pada pertemuan ini menghasilkan kesepakatan bersama terkait pengembangan materi dan metode pembelajaran. Termasuk menyamakan persepsi tentang materi, metode, rencana pembelajaran dan sistem evaluasi.

“Pada forum ini juga dilakukan pemilihan dosen koordinator mata kuliah. Terpilih sebagai dosen koordinator Rifki Ahda Sumantri dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,” kata Dosen Fakultas Peternakan tersebut.

Koordinator mata kuliah, Rifki Ahda Sumantri dalam paparannya menyampaikan desiminasi hasil ToT dosen pendidikan kewarganegaraan di UGM, bahwa inti materi perkuliahan itu sama, namun yang membedakan adalah cara pengembangan dosen dalam pembelajaran.
“Di UGM hanya 14 kali pertemuan itu sudah termasuk ujian tengah dan akhir semester. Sementara di Unsoed 14 kali tatap muka dan 2 pertemuan untuk UTS dan UAS,” ujarnya.

Dia berharap hasil diseminasi ini menjadi pengayaan pengalaman dan dapat dijadikan kombinasi untuk pengembangan pembelajaran. Sementara baginya, terpilih menjadi koordinator adalah sebuah amanah yang harus dilaksanakan.

“Saya menghormati keputusan forum. Sebagai orang muda, saya akan terus belajar kepada para senior. Semoga ke depan amanah ini membawa perubahan pembelajaran PKn di Unsoed menjadi lebih maju,” pungkasnya.(AR)

Tinggalkan Balasan