Menengok Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, Melarung Kepala Kerbau di Laut Pemalang

Advertisement

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Musik gamelan mengalun saat ancak perahu berisi kepala kerbau diboyong dari Aula Tempat Pelelangan Ikan Asemdoyong ke kapal nelayan. Nahkoda kapal pun bergegas menyalakan mesin dan segera membawa ancak berisi kepala kerbau itu ke tengah lautan untuk dilarung.

Kapal pembawa ancak itu sontak dibuntuti kapal-kapal nelayan lainnya yang sudah ditumpangi pengunjung. Mereka ingin menyaksikan dengan mata telanjang prosesi larung sesaji kepala kerbau dalam tradisi Baritan yang sudah puluhan tahun dilangsungkan masyarakat Desa Asemdoyong di Kabupaten Pemalang.

Ribuan orang pun rela berdesakan dan berpanas-panasan di tepi muara Asemdoyong untuk menyaksikan keberangkatan kapal yang akan melarung sesaji kepala kerbau itu. Momentum inilah yang menarik mereka jauh-jauh datang ke Asemdoyong untuk menonton riuhnya tradisi Baritan.

Baritan sendiri digelar setiap tanggal 1 Bulan Muharram atau Suro (Penanggalan Jawa). Tahun ini nelayan Asemdoyong melarung tiga ancak dengan jenis perahu berbeda-beda mulai dari Cantrang, Warok, dan gemplo. Tiga jenis perahu tersebut umumnya digunakan warga Asemdoyong mencari ikan.

“Iya, kami larung 3 ancak sebagai wujud rasa syukur kami nelayan Asemdoyong. Ini sudah ke-66 kalinya kami nelayan Asemdoyong menggelar Baritan.” tutur Murino, Ketua Panitia Baritan Asemdoyong disela-sela prosesi larung sesaji, Minggu (7/7/2024).

Banyak orang berduyun-duyun mendekat ke ancak-ancak Baritan. Sesaji kepala kerbau jadi hal menarik yang menyedot perhatian mereka. Hiasan mahkota, kalung dan tindik emas dilengkapi kalung bunga menambah aura sakral sesaji utama yang akan dilarung di tengah luasnya Laut Jawa itu.

Sebelum dilarung, sesaji berbentuk ancak berisi kepala kerbau itu terlebih dahulu dikirab ramai-ramai keliling desa, diiringi berbagai atraksi kesenian. Ancak-ancak tersebut lalu dibawa ke Aula Tempat Pelelangan Ikan yang menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat nelayan Desa Asemdoyong untuk didoakan.

“Tradisi Baritan ini sangat luar biasa, sudah ada sejak 1950-an. Kekayaan budaya ini harus kita lestarikan. Bukan hanya wujud syukur, Baritan juga jadi bukti kuatnya gotong royong nelayan di Pemalang, khususnya Asemdoyong.” kata Bupati Pemalang, Mansur Hidayat saat melepas ancak.

Lokasi pelarungan sesaji kepala kerbau itu pun tak sembarangan. Nantinya, ancak dilarung ke tengah laut Asemdoyong yang dikenal dengan nama Karang Subala Subali. Saat ancak diturunkan, pemilik-pemilik perahu akan menyiramkan air laut ke seluruh badan kapal mereka dengan harapan mendatangkan berkah.

Tradisi Baritan di Desa Asemdoyong Kabupaten Pemalang sendiri saat ini sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) setelah melalui sidang yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia di Yogyakarta pada September 2022 lalu.

Esensi dari tradisi turun temurun ini tak lain merupakan wujud rasa syukur
masyarakat Desa Asemdoyong yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan,
Kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil laut yang mereka peroleh. **

Penulis : Eriko

Bagikan :
Scroll to top
error: Konten dilindungi oleh Hak Cipta!!