Tari Kuntulan Sebuah Strategi Pangeran Diponegoro Melawan Penjajah
- calendar_month Sel, 25 Jun 2024


PUSKAPIK.COM, Slawi – Tari Kuntulan merupakan salah satu seni tradisional yang asa di Kabupaten Tegal. Gerakan tari ini, terbilang cukup unik, karena perpaduan antara gerakan pencak silat, dengan iringan musik rebana dan senandung Shalawat.
Jika diamati lebih mendalam tarian ini menggambarkan prajurit yang sedang berlatih bela diri, untuk mempertahankan diri. Untuk kostumnya sendiri berwarna putih-putih.
Kata Kuntulan sendiri berasal dari Kun-Taw atau Kunthauw atau Kuntao, yang merupakan jenis seni bela diri dari etnis keturunan China, yang tinggal di Filipina. Kuntulan juga diambil dari kata Kuntul yang merupakan nama burung angsa berwarna putih.
Oleh karena itu, penari Kuntulan ini minimal ada 10 orang dengan kostum atasan dan celana panjang, sepatu dan kaos kaki yang berwarna putih. Selain itu, ikat pinggang kalung kace, kain dan mote, ubel dalam dan luar berplisir, dan menggunakan kipas. Untuk instrumennya sendiri menggunakan kenthing, kenthung, rebana, kendhang, bedhug, dan tentu saja sang vokalis.
Tari Kuntulan diperkirakan tumbuh pada masa perang Pangeran Diponegoro tahun 1825-1830 M. Hal ini digunakan untuk mengelabuhi Pemerintah Belanda agar Laskar Pangeran Diponegoro di dalam menyusun kekuatan (Gladi Keprajuritan), tidak tercium oleh Belanda. Maka gerakan-gerakan bela diri tersebut diperhalus dan berirama serta diiringi dengan rebana maupun syair-syair keagamaan.
“Sejarahnya banyak versi, tapi menurut Pamong Budaya Pak Wahyu seperti itu,” kata Sekretaris Paguyuban Kuntulan Sangaji Kabupaten Tegal, Dian, Selasa (25/6/2024).
- Penulis: puskapik