Sekilas Tradisi Unfaedah di Pemalang Saat Ramadan, Dari Perang Balon Air Hingga Sarung

Advertisement

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Perang sarung antar remaja berujung pengeroyokan di depan kantor Bupati dan Wakil Bupati Pemalang tengah hangat diperbincangkan. Tradisi unfaedah ini ramai dikecam dan ditolak, menyusul perang balon air yang populer 2015 silam.

Perang sarung belakangan menjadi sorotan di Kabupaten Pemalang pasca viralnya video unggahan akun instagram @explorepemalang. Video itu menampakkan keributan perang sarung di Jalan Kyai Makmur, Kelurahan Kebondalem.

“Perang sarung berujung gelut. Primen kiye lur?” tulis @explorepemalang dalam postingannya, dikutip Kamis 7 April 2022.

Dalam video, salah satu remaja jatuh dan dikeroyok puluhan remaja lawannya tepat di depan kantor Bupati dan Wakil Bupati Pemalang. Postingan video @explorepemalang itu pun mendapat ratusan komentar dan disukai ribuan warganet.

Belakangan diketahui, keributan antar remaja itu terjadi pada Senin malam 4 April 2022. Mereka yang terlibat keributan adalah remaja Kelurahan Kebondalem dan Kelurahan Pelutan. Sejumlah remaja yang terlibat diamankan di Mapolres.

“Dibawa ke Polres untuk pembinaan agar tidak terulang, ada sekitar 7 sampai 8 anak.” kata Kapolsek Pemalang, AKP Kabul Santoso.

Tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta pemerintah dua Kelurahan tersebut juga dipanggil ke Mapolsek Pemalang. Mereka diminta untuk membina dan mengawasi remaja di wilayahnya agar perang sarung tak terulang lagi.

Warga Kabupaten Pemalang pun ramai-ramai mengecam dan menolak kegiatan perang sarung yang tak bermanfaat (unfaedah) itu. Flyer berbunyi pengecaman dan penolakan beredar luas di postingan media sosial.

Untuk diketahui, perang sarung ini bukanlah satu-satunya tradisi unfaedah di Kabupaten Pemalang saat bulan suci Ramadan. Kawula muda Kota Ikhlas mungkin masih ingat tradisi perang balon air di Alun-alun Pemalang dan sekitarnya.

Perang balon air di Alun-alun Pemalang.FOTO/PUSKAPIK/Screenshoot YouTube

Kegiatan iseng yang berlangsung selepas Salat Subuh dikala Ramadan ini pernah menjadi kebiasaan warga sebelum akhirnya dilarang aparat keamanan. Warga bisa mendapat belasan balon air yang dijual pedagang hanya dengan merogoh kocek Rp 5000.

Balon air itu mereka gunakan untuk melempari siapa saja yang ingin dijadikan sasaran. Tak jarang, pengguna jalan yang melintas jadi korban timpukan. Kaum wanita kerap jadi sasaran utama untuk dihujani balon air.

Tak jelas dari mana asal-usulnya tradisi tak bermutu itu. Akhirnya sekitar tahun 2017 tradisi perang balon air ini pun mulai menghilang setelah gencar dilakukan razia oleh aparat Kepolisian dan Satpol PP Pemalang.

Bahkan hingga bulan Ramadan tahun 2022 ini, terkadang masih dijumpai para penjual balon air di Alun-alun Pemalang. Aparat keamanan pun sigap merazia barang dagangan mereka.

“Kami (Satpol PP) bersama pihak Kepolisian menegur penjual balon air, kalau menjual lagi untuk sarana seperti itu ya ditindak, diamankan,” ungkap Kabid Tibumtranmas Satpol PP Pemalang, Agus Mulyadi.

Penulis : Eriko Garda Demokrasi

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
error: Konten dilindungi oleh Hak Cipta!!