Jelang Muscab PPP Pemalang, HAS Ingatkan Sejarah Perjuangan Pendahulu Partai

Calon Ketua DPC PPP Pemalang, Haji Akhmad Subkhi (HAS). FOTO/PUSKAPIK/BAKTIAWAN CANDHEKI
Iklan

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Pemalang akan melaksanakan Musyawarah Cabang (MUSCAB) VIII, Sabtu, 18 September 2021. Salah satu agenda utamanya adalah memilih Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC).

Salah satu Ketua DPC PPP Pemalang, Haji Akhmad Subkhi (HAS) berpesan kepada peserta Muscab yaitu para Pengurus Anak Cabang (PAC) untuk éling terhadap perjuangan para leluhur sekaligus pendiri PPP di Pemalang.

“PPP ini dilahirkan dan dibesarkan oleh para kiai. Jika para peserta Muscab ingat akan sejarah ini, mestinya mereka memilih calon Ketua DPC yang paling tidak sanadnya jelas, bukan anak kemarin sore yang ahistoris dengan PPP,” kata HAS Kamis, 16 September 2021.

HAS menceritakan bagaimana perjuangan para kiai zaman dulu. Ia pun menyebut beberapa nama kiai yang sudah berjuang membesarkan PPP Pemalang, di antaranya Kiai Minhajul Abidin Banyumudal, Kiai Umar Yahya Moga, Kiai Mikhrob (kakeknya), Kiai Mas’ud, Kiai Syahmari Karang tengah, Kiai Thosim Pemalang, Kiai Sya’ban Pemalang, Mbah Dim Comal, Kiai Adroi Mandiraja, dan masih banyak lagi.

“Saya yakin beliau-beliau ini masih melihat dan mengamati kita-kita. Dan saya yakin beliau-beliau menangis melihat kondisi PPP Pemalang saat ini,” imbuh HAS dengan mata berkaca-kaca.

Ia bertekad mencalonkan diri sebagai ketua DPC PPP Pemalang karena merasa terpanggil meneruskan perjuangan kakeknya (Kiai Mikhrob) yang merupakan salah satu pendiri PPP di Pemalang dan pernah menjadi Anggota DPRD Kabupaten Pemalang dari Fraksi PPP pada 1980-an. Tidak hanya itu, kakeknya juga merupakan Ketua MWCNU Moga periode pertama.

Selain itu, HAS juga memiliki keinginan kuat untuk mengangkat kembali marwah partai yang belakangan ini dinilainya cukup mengkhawatirkan. “Selama satu dekade terakhir ini saya melihat tidak ada perubahan yang signifikan di tubuh partai, pengurus DPC juga cenderung eksklusif, tidak transparan, terutama soal keuangan,” kata HAS saat dimintai keterangan.

Tidak hanya itu, ia juga bertekad membangun harmonisasi di antara pelaku politik dan pelaku ekonomi di Pemalang agar ekonomi dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Pemalang beranjak naik, tidak stagnan di peringkat bawah.

“Saya berpandangan antara indeks pembangunan manusia dengan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan dua arah. Artinya, indeks pembangunan manusia dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi juga dapat mempengaruhi indeks pembangunan manusia. Dan itu semuanya berkaitan erat dengan politik,” kata HAS.

Ia menekankan pentingnya konsolidasi politik untuk membangun Pemalang yang lebih baik. Hal itu harus didukung oleh stabilitas politik karena berdampak ke banyak hal, terutama menyangkut keamanan dan ekonomi. Karenanya perlu adanya harmonisasi di antara pelaku politik dan pelaku ekonomi untuk mewujudkan keinginan itu.

“Keamanan dan ekonomi tidak bisa berdiri sendiri, tapi berkaitan erat dengan politik,” katanya.

Untuk diketahui, HAS merupakan sosok yang sudah malang-melintang di kancah perpolitikan nasional. Ia tercatat pernah aktif sebagai Anggota Departemen Dakwah DPP PPP era Hamzah Haz, juga pernah menjadi anggota aktif di Departemen Litbang DPP PPP era kepengurusan Suryadharma Ali.

Selain aktif di kepengurusan DPP PPP, HAS juga sejak muda sudah berkiprah di Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI), yakni dari 1983-2006.

Setelah lebih dari dua dekade berkiprah di Jakarta, HAS akhirnya memutuskan pulang dan menetap di kampung halamannya di Pemalang pada awal 2015. Di Pemalang, HAS aktif di berbagai kegiatan sosial keagamaan, juga organisasi pemerintahan desa.

Saat ini HAS juga dipercaya oleh masyarakat untuk menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Desa yang selanjutnya disingkat BPD atau yang disebut dengan nama lain adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.

Penulis: Baktiawan Candheki
Editor: Faisal M

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini