Rakyat Pemalang Perlu Konsolidasi, Bukan Dagelan Politik

Advertisement

Pemilihan Kepala Desa (Pilkada) serentak dilaksanakan secara e-voting pada 172 Desa di Kabupaten Pemalang pada tahun 2018. Salah satunya Desa Gombong, Kecamatan Belik. Kondisi masyarakat Desa Gombong dan desa-desa lain jelang Pilkades saat itu memanas.

Pada politik lokal seperti ini, ketika warga sudah menentukan pilihannya akan dibela mati-matian, walaupun dari empat kandidat tersebut masih saling bersaudara. Kondisi seperti ini rawan akan perpecahan dan tidak akur dalam bermasyarakat.

Melihat kondisi dan potensi perpecahan, saya selaku putra kelahiran Desa Gombong terpanggil untuk menginisiasi agar masyarakat bersatu pasca Pilkades Gombong 2018 lalu.

Langkah konsolidasi saya tempuh agar para pendukung calon Kades yang kalah bisa bersatu kembali, untuk membangun Desa Gombong enam tahun ke depan bisa lebih baik lagi.

Waktu itu saya masih menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pemalang, saya mendorong kepada semua Kepala Desa terpilih di Kabupaten Pemalang beserta tim suksesnya untuk mengadakan Pesta Rakyat. Ini digelar sebagai konsolidasi sosial dan politik tujuannya agar masyarakat khususnya para pendukung calon kades yang kalah bisa bersatu kembali untuk membangun desa enam tahun ke depan agar lebih baik lagi.

Pesta demokrasi tingkat desa yang dilaksanakan dalam kurun waktu dua bulan dengan persiapan hampir setahun ini, kondisi di masyarakat di masing — masing desa mengalami suhu politik yang memanas, karena perbedaan pilihan, dengan pagelaran seni hiburan ini mereka disatukan kembali untuk membangun Gombong.

Para tim pemenangan masing-masing calon dikumpulkan, mereka mengaku sangat senang dengan pesta rakyat yang digelar di Gombong, dan siap mendukung pembangunan desa ke depan.

“Saya sangat senang dengan acara ini, karena semua bisa dirukunkan kembali setelah Pilkades kemarin yang sangat panas lah bagi saya” ujar Kasno pendukung calon Kades No 4, dikutip dari https://jatengprov.go.id

Ribuan penonton dari yang muda sampai yang tua memadati lapangan desa Gombong, dan menikmati acara tersebut hingga larut malam.

Puluhan penari kuda kepang juga turut serta mewarnai acara pagelaran seni “Pesta Rakyat Desa Gombong-Kembul Batir Maning” ini digelar di lapangan Desa Gombong kecamatan Belik, Sabtu, (10/11/2018 ).

Inilah potret politik lokal desa, tentunya tidak jauh beda dengan helatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Pemalang 2020 lalu.

Potensi perpecahan dan suhu politik yang memanas juga terjadi jelang Pilkada Pemalang 2020 lalu.

Tentunya setelah ditetapkannya Mukti Agung Wibowo dan Mansur Hidayat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Pemalang secepatnya melakukan konsolidasi sosial dan politik untuk semua lini masyarakat Pemalang, yang kemarin berbeda pilihan. Baik itu tim sukses maupun pendukung serta relawan ketiga kandidat kemarin.

Sehingga masyarakat Pemalang dapat bersatu, “Bersatu untuk kuat dan kuat karena bersatu”.

Kalau Rakyat tidak bersatu, maka akan sulit untuk membangun. Tentunya konsolidasi sosial politik ini harus dikedepankan dan didahulukan bukan malah melakukan langkah yang sama sekali tidak penting bagi kepentingan rakyat dan cenderung kontra produktif.

Beberapa langkah yang malah cenderung blunder ketika Kepala Daerah lebih mendahulukan mengurusi pergantian kepengurusan KNPI yang dualisme, triolisme kepengurusan Dewan Kesenian , pergantian di Yayasan Satya Praja yang tidak melalui prosedur dan upaya mosi tidak percaya dilanjutkan Musorkablub pada kepengurusan KONI.

Tentunya hal tersebut tidaklah urgent bagi dalam sosial politik di Kabupaten Pemalang.

Rakyat tidak butuh dagelan politik seperti itu mas!

Budhi Raharjo, Warga Pemalang

isi, materi dalam tulisan opini, sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis (redaksi)

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top
error: Konten dilindungi oleh Hak Cipta!!