Longsor dan Banjir Terus Mengancam, BPBD Pemalang Lakukan Hal Ini

Kepala BPBD Pemalang, Wahadi bersama Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Pemalang, Suyanto, ditemui usai rapat antisipasi kebencanaan, di kantor DPRD Pemalang, Kamis 11 Februari 2021. FOTO/PUSKAPIK/ERIKO GARDA DEMOKRASI
Iklan

PUSKAPIK.COM, Pemalang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemalang bakal memprogramkan penanaman puluhan ribu pohon guna mengantisipasi bencana tanah longsor di 2021. Fenomena banjir di daerah perkotaan yang belakangan terjadi, disebabkan tersumbatnya aliran sungai, kini normalisasi tengah dilakukan.

Itu disampaikan Kepala BPBD Pemalang, Wahadi dalam rapat antisipasi kebencanaan di kantor DPRD Pemalang, Kamis, 11 Februari 2021. “Kami tahun 2021 ini punya program untuk penanaman pohon, baik vertiver maupun pohon bernilai ekonomis. Maksudnya, tanaman vertiver karena akarnya bagus untuk menahan longsor,” ujar Wahadi.

Ia menjelaskan, penanaman pohon dilakukan karena risiko terjadinya tanah longsor di Pemalang tinggi. Nantinya akan ada 70.000 tanaman vertiver dan tanaman bernilai ekonomis, yang akan ditanam di tebing-tebing yang rawan longsor.

“Karena kalau hanya vertiver, nanti masyarakat tidak mau, keberatan. Sehingga ada vertiver dan pohon ekonomis, nanti masyarakat bersama BPBD akan melakukan penanaman pohon untuk mengantisipasi bencana tanah longsor,” kata Wahadi.

Program antisipasi bencana tanah longsor ini termasuk simulasi bencana, serta pemasangan Early Warning System (EWS).

Selain tanah longsor, kata Wahadi, peluang banjir di Kabupaten Pemalang juga tinggi. Seperti diketahui, awal Januari 2021 lalu banjir terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Pemalang, termasuk daerah perkotaan.

“Kalau di kota hujan 2 jam, hujan deras, itu dipastikan banjir. Karena airnya tidak lancar, got banyak yang tersumbat, terus salurannya (sungai) juga tadinya lebar sekarang sempit,mengecil, dan kadang banyak pulaunya,” kata Wahadi.

Seperti Sungai Rambut, di perbatasan Pemalang-Tegal. Kondisi alur sungai yang kian sempit, dipenuhi rumput gajah, tidak bisa menampung air ketika hujan deras mengguyur wilayah selatan. Alhasil, air meluber dan merendam pemukiman Desa sekitar sungai. Di antaranya Desa Banjarmulya, Desa Tambakrejo, Desa Lawangrejo, termasuk kantor Dinas Perhubungan.

“(Sungai Rambut) Kewenangannya provinsi. Kami sudah koordinasi dengan BPBD Provinsi, termasuk BPBD Pemalang-BPBD Tegal sudah kerja sama untuk mengusulkan normalisasi sungai rambut. Dan kini sudah mulai dikerjakan,” kata Wahadi.

Penulis: Eriko Garda Demokrasi
Editor: Faisal M

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini