Kembalikan Kejayaan Bawang Putih, IPB Kembangkan Teknologi Ultra-fine Bubbles di Tegal

Panen perdana Bawang Putih tehnologi ultra-fine bubbles yang dikembangkan IPB bersama Bank Indonesia Tegal di Desa Tuwel, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Kamis, 14 Januari 2021. FOTO/PUSKAPIK/WIJAYANTO
Iklan

PUSKAPIK.COM, Bumijawa – Upaya mengembalikan kejayaan bawang putih di tanah air terus dilakukan dengan menerapkan teknologi baru dalam cara pembudidayaannya.

Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Bank Indonesia Kantor Perwakilan Tegal, saat ini tengah menerapkan tehnologi ultra-fine bubbles terhadap penanaman bawang puitih yang dilakukan di sentra tanaman bawang putih di Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. Panen bawang putih hasil penerapan teknologi ultra-fine bubbles dilakukan di Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kamis, 15 Januari 2021 kemarin.

Dosen IPB Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Aris Purwanto menyampaikan sebenarnya teknologi ultra-fine bubbles merupakan inovasi yang sederhana.

“Kita hanya membuat gelembung yang sangat halus di dalam air dan ukurannya nano yaitu sekitar 100-300 nano meter. Gelembung ini kita injeksikan ke air dan itu bisa bertahan lama, sehingga dapat meningkatkan oksigen terlarut,” ujar Aris.

Aris menerangkan dengan naiknya kandungan oksigen di dalam air ternyata mempunyai korelasi dengan percepatan germinasi.

“Sehingga apabila benih bawang putih direndam dalam air, maka dia akan membuat benih itu lebih cepat tumbuh. Jadi kalau petani mau menanam, akan melihat plumulanya itu tumbuh lebih dari 60 persen,” katanya.

Aris menguraikan, keunggulan inovasi ultra-fine bubbles mempercepat masa muncul umbi bawang putih. Selama ini, petani harus menunggu lima sampai enam bulan supaya benih bawang putih dapat ditanam. Sedangkan teknologi ultra-fine bubble dapat mempercepat waktu tanam bawang putih hanya dua sampai tiga bulan.

“Dari sisi efisiensi waktu penyediaan benih akan menjadi lebih cepat dan siap tersedia kapan pun petani membutuhkan untuk menanam,” kata Aris.

Ia mengaku dalam pengembangan teknologi ultra-fine bubbles bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk menghasilkan generator fine bubble dan bisa digunakan di berbagai tempat dan lokasi.

“Hasil teknologi ini tergantung varietas yang digunakan. Kalau memakai varietas Tawangmangu hanya perlu waktu satu bulan sudah siap tanam. Kalau varietas Sanggar Sembalun memerlukan waktu dua sampai tiga bulan baru bisa ditanam,” katanya.

Aris mengharapkan teknologi ultra-fine buble dapat menjadi solusi pemenuhan kebutuhan bawang putih dalam negeri yang sampai saat ini lebih dari 90% masih impor.

“Produksi bawang putih kita masih berkisar antara 86 ribu ton, sedangkan impor kita mencapai lebih dari 400.000 ton. Tentu jauh sekali antara produksi dan impor,” katanya.

Kata Aris, Indonesia harus segera melakukan pemetaan (mapping) daerah potensial mana yang bisa ditanami, daan pada saat yang sama, perlu dihasilkan teknologi-teknologi yang bersifat terobosan.

“Sehingga kita tidak lagi bergantung pada impor bawang putih dari China maupun negara lain. Kita justru bisa memproduksi lebih banyak dengan bantuan teknologi tersebut,” ujar Aris.

Rektor IPB, Arif Satria yang ikut memanen bawang putih hasil teknologi ultra-fine bubbles berharap teknologi tersebut dapat segera diadopsi oleh petani di Indonesia.

“Teknologi ini saya kira sifatnya sudah di luar pakem. Oleh karena itu kolaborasi antara IPB University dengan pemerintah maupun petani menjadi penting,” ujar Arif.

Kepala Perwakilan BI Tegal M Taufik Amrozi, menyampaikan pihaknya akan terus berupaya membangkitkan lagi kejayaan bawang putih tidak hanya di Kabupaten Tegal tapi juga tempat lain dengan megajak Perwakilan BI di daerah lain.

“Desa Tuwel dan sekitarnya di Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal ini, dulunya pernah menjadi sentra bawang putih yang sangat terkenal di Indonesia,” ujar Taufik.

Kontributor: Wijayanto
Editor: Faisal M

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini