Setelah Viral, Produksi Spring Bed Abal-abal di Tegal Disetop

Camat Pangkah, Bambang Sihana dan Kapolsek Pangkah AKP Awan Agus mendatangi salah satu lokasi pembuatan kasur pegas tanpa merk di Desa Grobog Kulon, Rabu siang, 6 Januari 2021.FOTO/PUSKAPIK/WIJAYANTO
Iklan

PUSKAPIK.COM, Slawi– Sejumlah produsen kasur pegas tanpa merk di Desa Grobog Kulon, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, terpaksa berhenti produksi. Ini dilakukan setelah viral video warga di Kertoharjo, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan melampiaskan emosinya merusak kasur pegas (springbed) yang sedang dijajakan sales keliling pada hari Minggu, 3 Januari 2021 lalu.

Peristiwa itu terjadi lantaran warga merasa ditipu oleh sales. Pasalnya setelah dibongkar, kasur pegas dibuat dari bahan seadanya yakni kardus, tali kain dan kayu pinus.

Salah satu produsen kasur pegas, Riyanto (40), warga RT 04 RW 05 Desa Grobog Kulon, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, mengakui jika sales kasur pegas yang menjadi sasaran emosi warga Pekalongan itu adalah salesnya, Ahmad Sekhemi, Ahmad Yulianto dan Ramedon.

“Iya itu sales saya, tapi mereka salah sasaran. Warga belinya di sales lain,” kata Riyanto

Riyanto mengakui, kasur pegas yang dijual memang bukan buatan pabrikan. Namun dirakit oleh sejumlah pekerja di depan rumahnya. Rangkanya menggunakan kayu pinus. Sedangkan karet penyangga menggunakan tali kain perca dan dilapisi kardus bekas serta empat buat kawat berbentuk per. Untuk mempercantik tampilan, kasur dibungkus plastik transparan.

“Harga dari saya Rp. 140.000 per unit. Sales mau menjual berapa terserah mereka,” ujar Riyanto.

Riyanto mengaku tidak tahu, jika saat menjajakan ke kampung-kampung, salesnya kerap menawarkan dengan harga tinggi yakni berkisar Rp. 1.200.000 per unit. Bahkan, untuk memikat calon pembeli, sales sering mengatakan bahwa kasur yang dijual berasal dari cuci gudang produsen besar.

“Saya tidak tahu kalau ada penawaran sampai segitu dan pakai omongan cuci gudang. Saya tahunya sales bayar ke saya sesuai harga yakni Rp. 140.000 per kasur,” tegasnya.

Riyanto mengakui sudah menggeluti usaha produksi kasur pegas tanpa merk selama dua tahun. Dalam sebulan rata-rata omset penjualannya mencapai 100 kasur.

“Kalau jualnya nggak mesti sehari laku berapa. Ya rata-rata sebulan 100 kasur. Sekitar segitu,” ungkapnya.

Atas kejadian yang menimpa tiga salesnya di Pekalongan, Riyanto diminta membuat surat pernyataan tidak lagi menjual kasus pegas tanpa merk di wilayah Pekalongan. Surat pernyataan tersebut dibuat di Polsek Pekalongan Selatan disaksikan warga dan Polisi.

“Saat ini saya berhenti produksi dulu. Saya masih trauma dengan kejadian yang dialami sales saya kemarin di Pekalongan,” ujarnya.

Camat Pangkah Bambang Sihana beserta Kapolsek Pangkah AKP Awan Agus menyambangi sejumlah produsen kasur pegas tanpa merk di Desa Grobog Kulon, Rabu siang, 6 Januari 2021. Bambang Sihana mengatakan, pihaknya bersama Muspika akan segera mengumpulkan para produsen kasur.

“Nanti akan kami kumpulkan, kami beri pembinaan. Ya nanti kami beri pengertian kalau menjual dengan harga wajar dan jangan sampai merugikan konsumen,” ujar Bambang Sihana

Kontributor: Wijayanto
Editor: Amin Nurrokhman

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini